Pesan Khabib Nurmagomedov Kepada Dunia


KHABIB Nurmagomedov, jauh, suku dan rasnya berbeda, dia berasal dari pelosok Rusia. Tapi, saya merasa punya ikatan batin, merasa dekat, bahkan ikut bangga atas prestasinya sebagai sesama muslim. Mungkin, Anda juga. Alhamdullilah.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Alloh, supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al Hujurot: 10)

Dan, hari ini, Minggu (24/10/2020), walau  usianya masih relatif muda, 32 tahun, sang juara dunia UFC tak terkalahkan 29 kali pertarungan memukul telak saya dan mungkin Anda juga setelah duel terakhirnya.

Saya putuskan mencatatkan momen ini lewat tulisan. Walau bukan ustad, ulama, kyay, apalagi habib,  "Sang Petarung" telah menyiram kembali rohani saya, kita, dan mungkin dunia dari debu-debu kotoran dunia.

Kita sering tak sadar merasa hebat, merasa jumawa, ketika mendapatkan amanah lebih, jabatan, kekayaan, dan lainnya sehingga lupa. Tapi, Khabib yang telah menggenggam dunia lewat popularitas, prestasi, dan uang tetap muslim yang taat.

Khabib setelah menaklukan lawannya memilih bersimpuh ketimbang selebrasi jumawa.

Sejak awal pertandingan, timbang berat badan, Khabib minta ditutupi selembar kain agar auratnya tak terlihat. Aurat pria dari puser hingga lutut. Setelah itu, dia minum air mineral sambil jongkok seperti yang disunahkan Nabi Muhammad SAW.

Setelah menaklukan Justin Gaethje lewat technical submission pada ronde kedua di Fight Island, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Minggu (25/10/2020), Khabib tak melakukan selebrasi, euforia kemenangan, lompat kegirangan, membusukan dada, apalagi meninju langit.

"The Eagle", julukannya, malah langsung bersimpuh menutupi tangisannya dari jutaan pasang mata. Dia baru kembali menegakan tubuhnya setelah lawannya, Justin Gaethje, membisikan sesuatu.

Bagi Khabib, pertarungannya ini sangat emosional karena yang pertama kali tanpa kehadiran ayahnya, Abdulmanap Nurmagomedov yang tutup usia pada bulan Juli lalu akibat penyakit jantung.

Setelah wasit mengangkat tangannya sebagai tanda kemenangan, Khabib Nurmagomedov langsung sujud syukur. Saat diwawancarai, sang juara beberapa kali mengucapkan alhamdullilah. 

Dan jika kalian manusia mau bersyukur atas nikmat yang telah Aku berikan kepada kalian maka niscaya Aku akan menambah nikmat yang telah Aku berikan kepada kalian, dan jika kalian kufur maka ketahuilah niscaya siksa-Ku itu pedih.” (Q.S. Ibrahim: 7).

Khabib: Berat rasanya bertanding tanpa ayahku. Aku gak sanggup melanjutkannya lagi. Kemenangan ini untuknya.

Usai menyatakan mundur saat masih di puncak kejayaannya, Khabib berpesan pada dunia:  “Dekatlah dengan orangtuamu. Karena suatu hari akan terjadi sesuatu hal, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok.”

Khabib, ketika berada di puncak singasana juara dunia kelas ringan UFC dan uang yang melimpah ruah, dia memilih mengikuti nasehat ibunya untuk turun dari gelanggang yang ditekuninya sejak kecil.

Wahai Rasulullah, kepada siapakah seharusnya aku harus berbakti pertama kali?”. Nabi memberikan jawaban dengan ucapan “Ibumu” sampai diulangi tiga kali, baru kemudian yang keempat Nabi mengatakan “Ayahmu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Di pentas puncak karirnya, Khabib mengucapkan terimakasih kepada pelatihnya, timnya, bahkan memuji pribadi lawan tandingnya. Khabib berpesan agar perilaku baik Gaethje dalam merawat orang-orang terdekat diikuti oleh orang lain.

Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. 

Khabib Nurmagomedov: Alhamdullilah

Khabib berhasil menjadi juara sejati, mengalahkan egonya, ambisinya. Di usia muda, fisik masih sangat prima, dan pada posisi puncak prestasi, dia memenangkan pertarungan terbesarnya, yakni berperang dengan dirinya.

Saya ikut bangga, Khabib mencatatkan diri sebagai juara yang tak terkalahkan UFC dan yang lebih membuat tabik juara dalam bertarungan ego, ambisi, maupun nafsu duniawinya hanya demi mentaati nasehat ibunya agar turun gelanggang.

Rasulullah bersabda: Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran akbar. Lalu sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar (yang lebih besar) itu wahai Rasulullah? Rasul menjawab, “jihad (memerangi) hawa nafsu.”

Nafsu tidak ada ujungnya, seperti menggaruk borok, nyaman, tapi akhirnya terinfeksi. Nafsu ibarat juga seperti minum air laut. Semakin diminum, kita akan semakin haus.

Akan tetapi, nafsu tidak boleh dihilangkan, saat-saat tertentu, kita membutuhkan dorongan nafsu. Oleh karenanya nafsu itu bukan untuk dimatikan, akan tetapi harus dikendalikan.

Nafsu, misalnya, memaksakan anak yang masih awam politik nyalon kepala daerah. Nafsu meraih kekuasaan dengan berbagai cara, nyogok pakai sembako dan uang biar bisa menang, dan banyak lagi contohnya berceceran di sekeliling kita.

Khabib bukan ustad, ulama, kyai, apalagi seorang habib. Dia hanya seorang seniman bela diri profesional keturunan etnis Avar. Nurmagomedov adalah Juara Dunia Combat Sambo dan UFC. 

Namun, sikap dan kata-kata singkatnya seakan menjadi air sejuk yang membasuh saya dan mungkin kita dan dunia dari debu-debu egosentris, hedonisme, materialistik, otoritarianisme, dan banyak lagi kotoran-kotoran yang merusak jalan menuju-Nya.  

Sekaligus, teladan wajah seorang muslim. Semoga lahir Khabib-Khabib dunia sepertinya dalam berbagai profesi, amiiin. Well still remember how you stand for us when someone talk bad about our dien. Barakalloh Khabib, jazalloh khoir. Alhamdullilah

*Jurnalis