Petani Tanggamus Berharap Pestisida Hama Alpokat, Pisang, Dan Cengkih

 DPRD Tanggamus sosialisasi perda (Sosper) Perlindungan Produk Lokal, di kebun alpokat milik Raden Jaya, Pekon Banjar Negeri Kecamatan Gunung Alip, Selasa (4/8).


Angota Komisi III dari Fraksi Partai Nasdem, Johny Wahyudi  mengatakan, semua anggota dewan diwajibkan untuk menyosialisasikan Perda No 3 tahun 2019 tentang perlingdungan produk lokal kemasyarakat.

Menurut Johny, perlindungan diperlukan untuk melindungi produk lokal yang memiliki kekhasan daerah, termasuk meningkatkan daya saing.

Dia juga mengatakan, Tanggamus memiliki produk lokal, berupa hasil pertanian dan industri yang memiliki corak kekhasan dan keunggulan, yang sangat berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanggamus khususnya.

Pada Pasal 24 kata angota dewan itu, setiap orang dan badan yang memproduksi produk lokal diprioritaskan diberi insentif/bantuan berupa bantuan sarana dan prasarana produksi produk lokal.

Pemberian subsidi dalam penyedian bahan baku. Pemberian kemudahan dalam mengakses informasi teknologi.

“Juga diberikan pembinaan secara terpadu dan tepat sasaran, melalui penyuluhan, kursus, diakusi dan pelatihan kerja oleh perangkat daerah. Dan diberikan sertifikat produk lokal oleh lembaga sertifikasi yang ditunjuk pemerintah,” jelasnya.

Pemilik kebun alpokat, Efwan mengatakan, melihat prospek budidaya alpokat sangat menjanjikan, dia berspekulasi menghabiskan tanam kelapa dan cengkih yang memang sudah ada, dan menggantinya dengan menanam 200 batang di lahan dengan luas 1 hektar.

Menurutnya, alpokat tanaman padat yang usianya bisa mencapai ratusan tahun, rutin berbuah tidak mengenal musim.

Harga jual saat ini 35 ribu/kg jenis mentega, itupun pembeli yang mengunduhnya sendiri.

"Kendala, ulat daun kalau musim hujan, selebihnya gak ada kendala, kita tanam bibit sambung (stek) 2.5 tahun sudah mulai berbuah,” ucapnya.

Sementara Yulianto, petani pisang jenis ambon dan raja, mengatakan untuk perawatan setiap satu bulan sekali tanamannya dipupuk dan dibersihkan.

“Kendalanya penyakit batang (muntaber) yang sampai saat ini belum ditemukan obat atau cara mengatasinya,” jelasnya.

"Untuk harga jual pisang jenis raja dan ambon, saat ini Rp3.000/kg, mengalami penurunan dari sebelumnya,” timpalnya.

Berbeda dengan tanaman cengkih yang lima tahun dari masa tanam baru mulai berbuah, itupun kalau jenis cengkeh samsibar.

“Penyakit pada tanaman cengkih, mati ranting pucuk, dimulai dari bolong batang dan mengeluarkan air, sampai saat ini belum ditemukan cara mengatasinya,” jelas petani cengkeh, Saprodi.

Ketiga petani tersebut berharap Dinas Pertanian (Distan) Tanggamus, bisa turun membantu mengatasi hama penyakit tanaman mereka, yang sampai sekarang belum ditemukan obatnya.