Pikiran Sesar (Catatan untuk Ade Armando)

Gunawan Pharrikesit/Ist
Gunawan Pharrikesit/Ist

PRANK menjadi kelakar sekaligus budaya baru dinegara ini. Seakan menjadi geliat normal dan wajar, karena pemimpin negri pun ikut bermain didalamnya.

Meski sejatinya prank memiliki nilai negatif dan akan mengundang kontroversi, bahkan kegaduhan. Karena prank itu sendiri bermakna lelucon praktikal atau sebuah trik (pelakunya kerap berkelompok) menyebabkan yang ditujunya (baca: korban) merasa tidak nyaman, amat terkejut,  bahkan kebingungan.

Dua bait narasi pembuka diatas, menjadi hulu ledak pikiran sesat yang menganga pada atmosfir kata-kata dan terdampar di otak kecil rakyat indonesia.

Pikiran para picik menjaga "dipertuan agung", untuk dinyatakan tidak pernah salah (baca: selalu benar), bijak, jujur, merakyat, dermawan, sederhana, tidak mementingkan diri sendiri atau keluarga dan kelompokmya, berbudi luhur, mengedepankan kebersamaan, bahkan dinyatakan berakhlak mulia.

Ha ha ha...., pikiran yang sesungguhnya bisa dinamakan pikiran sesar. Pikiran yang terlalu berbahaya dan bisa membuat bencana bagi sekelilingnya (: memaknai sebuah negara).

Jika dilansir dari literatur, sesar merupakan lokasi yang biasa timbulnya goncangan bumi. Bahkan BMKG menjelaskan sesar atau (fault) adalah bidang batas antara dua fraksi kulit bumi yang mengalami gerakan relatif. Sesar biasanya merupakan daerah yang relatif lemah, mengalami retakan, atau terdapat celah.

Lantas bagaimana kalau sesar terjadi pada pikiran, pada otak manusia dalam membuat tafsir, membuat nalar, yang kemudian disebut pemikiran sesar ?

Bisa jadi pemikiran sesar ini merupakan pemikiran yang berada antara dua selaput otak yang mengalami gerakan relatif. Gerakan antara daya sadar dan daya khayal, menembus area berfikir terlemah yang terdapat begitu banyak celah untuk tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Ruang berpikir inilah yang kini sedang dipertontonkan oleh para penjaga "dipertuan agung", seperti ade armando.

Merupakan pemikiran sesar yang menjadi pemikiran sesat lemah nalar, sehingga manabrak kesadarannya sebagai umat beragama, sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang nantinya akan kembali ke Tuhannya dan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.

Armando berani melepas predikat keilmuannya, melepas keinteleltualannya, menggadaikan nama baiknya, "melacurkan" kecerdasannya.

Alih-alih meluruskan nalar yang menjadi standar kemampuan Armando hadir ditengah masyarakat, justru sebaliknya semakin melemahkan nalar itu sendiri dengan pembenaran-pembenaran yang tidak benar.

Seperti halnya cerita terkini tentang sumbangsih Rp2 triliun, yang saat ini begitu masif menjadi perbincangan semua kalangan.

Tak terkecuali narasi Ade Armando yang berlatar dari pemikiran sesar , yang membawa kesesatan.

Begini narasi sesarnya: 

"Anda mungkin sudah dengar ya berita menggemparkan ini //. Keluarga pengusaha akidito menyumbang 2 triliun rupiah untuk penanganan covid-19 di Sumatera Selatan//. Bukan 2 miliar looh, dua triliun rupiah//. Uang semua, gak pake pasir//. Karena itulah saya senang dengan teladan keluarga akiditio//.

Ini jadi satu tambahan lagi yang bisa saya gunakan untuk menantang kelompok-kelompok muslim pribumi yang suka sekali menjelekkan tionghoa//. Saya akan bilang, ini sumbangan pengusaha tionghoa//.

Lucu, kesal, geram, muak, marah, meski tetap harus memaklumi dari siapa keluarnya kata-kata itu: Ade Armando sang penjaga "dipertuan agung".

Entah kenapa "komedi negatif" yang dipertontonkan di "panggung" Markas Kepolisian Daerah Sumatra Selatan (22 Juli 2021) yang kebenarannya masih tersembunyi didalam kerak bumi itu, langsung saja dipercaya menjadi sebuah keyakinan si Armando, dan langsung "menyerang" Umat Muslim yang disematkannya sebagai kelompok-kelompok warga pribumi, dengan mengklasifikasikan warga keturunan china dengan menyebutnya pengusaha tionghoa.

Sebuah nalar yang hilang dari pemikiran sesar sesat Armando, dengan diteruskan pada kalimat nyinyir: "Mana sumbangsihmu?".

Pertanyaan yang patut dan wajib dipertanyakan kembali, sebagai bentuk protek rasisme yang dipertebal oleh Armando. Pertanyaan yang seharusnya sudah cukup menilai otak Armando yang mungkin saja sudah terdapat patahan sesar didalamnya, dan terjadi guncangan sebelumnya.

Uuupsss...., maaf ya bung Armando (: anggap saja tidak bercanda).

Yang menjadi catatan akhirnya, masih pantaskah kita percaya dan mengakui kepatutan keilmuannya? Masih perlukah kita menganggap pemikirannya sebagai seorang penjaga ketajaman berpikir generasi bangsa (:baca mahasiswa) dan para penjaga NKRI?.

Atau sudah saatnya kita melempar jauh kedalam patahan sesar ruang berfikirmya Armando mulai saat ini, sehingga guncangan dari pemikiran sesar nya tetap tidak terasa.

Naaah....

Jurnalis senior dan advokat