PMII Kehilangan Arah Perjuangan


Tanggapan Bagi Asep Sugiarto Dkk. 

SAYA menyukai budaya intelektual karena itu saya menjanjikan dalam waktu yang memungkinkan, akan menanggapi tulisanmu yang menandai saya. 

Saya tentu tak ingin reaktif menanggapi apa yang kalian sampaikan, bagaimanapun kalian adalah generasi muda yang saya berharap bisa memberikan sumbangsih nyata, dalam pembangunan dan mengembangkan nalar positif ketika berjuang atas nama rakyat. 

Saya pun tak akan marah ketika Asep dengan sarkasme mengatakan saya cecunguknya Yozi Rizal. Saya memahami jiwa kalian sebab saya sudah pernah berada diusia kalian, dan saya akan menyitir sedikit bahasa Shoe Hok Gie bahwa setiap orang dibentuk oleh pengalaman batinnya.

Dan seusia kalian ada kegelisahan memandang masa depan, ditengah kompetisi kader yang harus urut kacang. Ada kecenderungan feodal dalam pengkaderan di organisasi yang membuat junior harus sesuai dengan skema seniornya. Hal ini tak perlu kalian tanggapi, tanyakan saja pada nurani sendiri.

Kenapa saya menganggap ada hidden agenda? Saya menilai langkah kalian tak rasional dan terjebak pada upaya membangun populisme yang sempit. Hari-hari terakhir kalian terjebak pada upaya membangun citra lembaga yang lebih progresif dibanding lembaga sejenis lainnya, namun gagal melakukan aliansi dengan pihak yang bertujuan sama. 

Dalam hal ini salah satu contohnya adalah konflik yang tak perlu dengan Yozi Rizal yang sudah sejak jauh hari memproklamirkan diri sebagai pihak yang menantang undang-undang celaka itu. Dalam hal ini kalian blunder, apalagi saya melihat dalam rekaman itu, tak ada sesuatu yang sungguh serius untuk menjadi bahan pertengkaran, selain ego anak muda yang ditunggangi ego senior. 

Saya tak tahu senior kalian yang mana hari ini yang menjadi inspirasi buat kalian sehingga terjebak dalam gagasan sempit yang secara umum dapat saya nilai, melemahkan perjuangan menolak UU Cipta Kerja. 

***

Secara umum stratak yang kalian lakukan memble karena tak mampu mencapai tujuan ideal. Kenapa? Karena kalian terpaku untuk bertemu dengan ketua DPRD dan banyak anggota DPRD yang partainya justru ada dibalik pengesahan UU itu. Itu bodoh, karena mereka tak terkait langsung dengan kebijakan itu, dan jika mereka melakukan itu, maka PAW menunggu, mereka sudah perhitungkan itu.

Adapun Yozi dan beberapa kawannya jelas akan menerima kalian karena sesuai dengan asfirasi partainya, seharusnya ia kalian posisikan sebagai mitra.

Apa yang terjadi di forum pada hari itu tidaklah vis a vis membuat kalian berhadapan, kecuali ada muatan pribadi membenci secara pribadi Yozi karena ia, sejauh pernah saya baca beberapa kali mengkritik Wagub Lampung yang menjadi senior kalian.

Apakah ini menjadi sebuah alasan untuk melakukan penghakiman terhadap Yozi, sementara jelas bahwa Nunik  menjadi pendukung pelaksanaan UU Cipta Kerja.

Nunik begitu telengas menyosialisasikan kebaikan UU ini dan ketika ia dikritik oleh ketua Partai Demokrat Pringsewu, ia segera menghapus jejak digital yang sudah tersebar itu, dan ketua PD  Pringsewu tersebut di blokir. 

Itu sebabnya saya sarankan, yang seharusnya kalian lakukan adalah mendesak Gubernur dan Wakilnya agar menolak UU Cipta Kerja atau setidaknya menyampaikan harapan massa aksi pada pemerintah pusat., agar UU ini dibatalkan.

Ini sudah berjalan di beberapa daerah, beberapa gubernur bahkan secara terang-terangan menyatakan menolak UU Cipta kerja. 

Tentang tuduhan melakukan argumentum ad hominem. Saya tahu kau mengutip sastrawan  AY Erwin yang menuliskan ini dalam esainya.

Saya berkeyakinan besar dari risalah yang ia buat itulah kalian mencoba menerapkan teori ini untuk menyerang lawan kalian.

Padahal sebenarnya AYE berusaha memberikan penyadaran atau katakanlah argumen untuk membuka wawasan baru, bagaimana kita berdialektika dengan baik, itu harapan dia.

Ini karena ia diserang oleh beberapa orang diantaranya Saut Situmorang, Malkan Junaidi dan beberapa lainnya. Dalam hal lain Gunawan Muhammad atau sastrawan lainnya adalah yang ia bela.

Dia (AYE) sudah berangsur sembuh dari sakitnya, semoga ia lekas baik. Contoh simpel dari argumentum ad hominem itu adalah begini: semisal saja salah satu ketua lembaga menyatakan sikapnya dalam sebuah kasus, lalu saya misalnya menelanjangi dia dengan mengatakan akan membuka nama seseorang yang dulu sering mengurungnya didalam kamar kost, semasa dia mahasiswi.

Ini jelas argumentum ad hominem karena alih-alih menanggapi gagasan itu tetapi malah menyerang masa lalu dan kehidupan pribadinya. Ini hanya sekedar  contoh, saya harap kita terhindar dari hal semacam ini. 

Saya berharap ini di pahami, kadang kita harus menepiskan hal yang kecil untuk mencapai tujuan besar, disitulah kematangan kalian sebagai aktivis di uji. 

Saya memberikan sedikit contoh lagi, ketika kelompok nasionalis pimpinan Chiang Kai Sek dan kelompok komunis pimpinan Mao Ze Dong  terlibat perebutan dominasi kekuasaan di China, pada saat yang sama Jepang masuk dan menjajah mereka. Apa yang dilakukan Chiang Kai Sek dan Mao?

Mereka bersepakat untuk bersatu melawan kolonialisasi Jepang. Artinya kita harus melihat tujuan yang lebih besar, kita harus memprioritaskan melawan bahaya yang lebih besar. 

Sebagai saran, saya harap berhentilah dengan lelucon yang tak lucu ini. Kembalilah pada tujuan yang lebih penting bagi bangsa ini.

Eksistensi lembaga tidak mesti dibangun  dengan cara yang reaktif dan emosional. Bangun aliansi, mantapkan strategi dan taktik. Kalian masih muda, gunakan masa hijau kalian untuk mereguk pengalaman sebanyak-banyaknya. 

Apakah sedikit tanggapan ini sudah cukup? Jikapun belum selalu terbuka kesempatan buat kita saling berdialektika dengan intelektual, bukan dengan gaya jalanan semacam menantang duel dan sebagainya, itu terlalu emosional dan tidak menunjukkan kelas pendidikan yang baik. 

Di atas semua itu saya menyayangi kalian. Salam.

Cc. Rahmad, Yozi Rizal

Ini tulisan balasan dr Laraya Robby dkk bg untuk Asep Sugiarto Dkk,,