Proklamasi Di Secangkir Kopi Sumber Jaya


Dialog Imajiner dengan Sukarno-Hatta (28):

Oleh Syafarudin Rahman

MAHASISWA milenial permisi menyalakan laptop mengeraskan volume dan meluncurlah lagu kebangsaan tiga stanza dan kibaran Bendera Merah Putih. Delapan mata dan telinga kami menyaksikan seksama layar monitor.

Indonesia Raya

Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Di sana lah aku berdiri
Jadi pandu ibuku

Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu

Hidup lah tanahku
Hidup lah negriku
Bangsaku Rakyatku Semuanya
Bangun lah jiwanya
Bangun lah badannya
Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka, Merdeka
Tanahku, Negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka, merdeka
Hidup lah Indonesia Raya

II
Indonesia, tanah yang mulia
Tanah kita yang kaya
Di sana lah aku berdiri
Untuk slama-lamanya

Indonesia, tanah pusaka
P'saka kita semuanya
Marilah kita mendoa
Indonesia bahagia

Subur lah tanahnya
Subur lah jiwanya
Bangsanya, Rakyatnya, Semuanya
Sadar lah hatinya
Sadar lah budinya
Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka, Merdeka
Tanahku, Negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka, merdeka
Hidup lah Indonesia Raya

III
Indonesia, tanah yang suci
Tanah kita yang sakti
Di sana lah aku berdiri
M'njaga ibu sejati

Indonesia, tanah berseri
Tanah yang aku sayangi
Marilah kita berjanji
Indonesia abadi

S'lamatlah rakyatnya
S'lamatlah putranya
Pulaunya, Lautnya, Semuanya
Maju lah negrinya
Maju lah pandunya
Untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya
Merdeka, Merdeka
Tanahku, Negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka, merdeka
Hidup lah Indonesia Raya

Milenial : izin Proklamator dan Pak Syafarudin, silakan diminum kopi luwak robusta dari Sumber Jaya, Kabupaten Lampung Barat.

Bung Karno : Sumber Jaya di Provinsi Lampung? O, aku dulu pernah ke daerah sana.

Syafarudin: Betul sekali Proklamator. Sejarah mencatat pada tahun 1951-1952, eks-laskar Pejuang 45 (Pejuang Siliwangi) dari Tasikmalaya ditransmigrasikan ke Lampung oleh Biro Rekonstruksi Nasional (BRN).

Program transmigrasi itu untuk memberikan harapan penghidupan yang lebih baik kepada para mantan Pejuang 45 setelah Indonesia merdeka.

Presiden Soekarno sendiri saat itu (14 November 1952) hadir dan meresmikan keberadaan mereka di Lampung.

Sekitar 500 mantan pejuang atau bersama keluarga mereka yang ribuan jiwa dalam dua gelombang berdatangan ke wilayah Sukapura, Sumberjaya (sekarang masuk wilayah Kabupaten Lampung Barat).

Milenial : izin menambahkan Pak Syafarudin. Dua tahun lalu,
Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus resmikan Tugu Soekarno secara simbolis dengan penandatanganan prasasti dan pemotongan pita.

Peresmian tersebut bersamaan dengan pembukaan helatan Festival Kebangsaan di Lapangan Sukarata, Kecamatan Sumber Jaya, Rabu (14/11/2018).

Dalam sambutannya Bupati menyampaikan bahwa untuk memperingati hari kedatangan presiden pertama Republik Indonesia dalam rangka transmigrasi eks Badan Rekontruksi Nasional (BRN) di Kecamatan Sumber Jaya tanggal 14 November 1952 silam.

“Dengan meninggalkan naskah sejarah perjalanan seribu mil pun harus dimulai dengan satu langkah jang pertama Soekarno Presiden RI Sumberjaja 14 November 1952,” ungkap Parosil.

Bung Hatta: Ujungnya bangun patung lagi, patung lagi. Mengenang sekaligus kultus figur. (ucapnya datar tapi maknanya dalam)

Syafarudin: Maaf Proklamator. Budaya Nusantara dari Zaman Majapahit hingga hari ini ya salah satunya ya suka buat wayang, patung.

Bukankah turut menghidupkan dapur usaha seniman, pengrajin dan UMKM sejenis koperasi. By the way, milenial apa yang mau disampaikan pekan ini.

Milenial : Izin Proklamator dan Pak Syafarudin, kami milenial ingin mengenang kilas balik seminggu peristiwa sebelum proklamasi kemerdekaan.

Di awali 6 Agustus 1945, Amerika menjatuhkah bom atom di Hirosima. Dilanjutkan tanggal 9 Agustus 1945 (atau hari minggu ini 75 tahun lampau) dijatuhkan lagi bom atom kedua di Nagasaki. Lalu Jepang menyatakan menyerah kalah pada sekutu.

Tentu ini berpengaruh di kawasan daerah jajahan negara-negara kuat tersebut, termasuk kawasan nusantara yang sudah bersiap merdeka melalui BPUPKI dan PPKI.

12 Agustus 1945, Sukarno, Hatta dan Dr. Radjiman bertemu pimpinan Jepang di kota Saigon. Pada pertemuan itu, Terauchi, seorang pejabat Jepang mengutarakan pemberian hadiah dari pemerintah Jepang.

Ia berpidato singkat, "Tuan-tuan, saya mengabarkan bahwa pemerintah Jepang telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia."

Bung Karno pun menyambut hangat pemberian itu,"Kami berjanji akan berusaha segiat-giatnya untuk melaksanakan kewajiban kami dengan segenap jiwa dan raga yang berkobar-kobar."

Hatta sendiri seusai pertemuan itu menyampaikan kepada Bung Karno perlunya mempercepat proses kemerdekaan.

"Kita harus mempercepat persiapan kita untuk melaksanakan kemerdekaan kita. Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia harus segera bersidang dan mengesahkan UUD Republik Indonesia." ( Sumber : Diolah PDAT TEMPO dari buku ”Sepekan menjelang Proklamasi”, karya Buntje Harbunangin” , 2006, penerbit Tintamas, Jakarta ).

Milenial : Izin Proklamator dan Pak Syafarudin, kami milenial ingin mengenang kilas balik seminggu peristiwa sebelum proklamasi kemerdekaan. Terutama peristiwa tanggal 12 Agustus tersebut.

Kami ingin bertanya, sebetulnya Proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 itu hasil perjuangan, siasat ambil alih kekosongan, kompromi, lobi, atau pemberian?

Bung Karno : Milenial anda perbanyak saja membaca buku sejarah lagi dan kau akan temukan sendiri jawabannya.

Bung Hatta: Coba Bung Syafarudin bacakan seksama pidato penyampaian teks proklamasi. Resapi dan simpulkan sendiri jawabannya milenial.

Syafarudin : bukankah sebelumnya ada peristiwa rengas dengklok dimana sekelompok pemuda membawa Bung Karno, Bung Hatta, menghindari dari pengaruh rayuan Jepang. Saya bacakan pidato pengantar pembacaan teks proklamasi.

Saudara-saudara sekalian,
Saya telah minta saudara-saudara hadir di sini untuk menyaksikan satu peristiwa mahapenting dalam sejarah kita.

Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang, untuk kemerdekaan tanah air kita bahkan telah beratus-ratus tahun!

Gelombang aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya dan ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita.

Juga di dalam Zaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-hentinya.

Di dalam Zaman Jepang ini, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka, tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga sendiri, tetapi kita percaya kepada kekuatan sendiri.

Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil sikap nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri.

Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya.

Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarat dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia.

Permusyawaratan itu seia sekata berpendapat bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.

Saudara-saudara! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah proklamasi kami:

P R O K L A M A S I

Kami Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan
dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Djakarta, 17 Agustus 1945
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta.

Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka! Tidak ada suatu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita!

Mulai saat ini kita menyusun negara kita! Negara merdeka, negara Republik Indonesia! Merdeka, kekal, abadi! Insya Allah Tuhan memberkati kemerdekaan kita ini.

Milenial : I See. Hasil Perjuangan. Merdeka, merdeka, Allohu Akbar. Izin permisi pekan depan dialog kembali.

Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan
FISIP Universitas Lampung