Puisi Terakhir Paus Sastra Atas Dedikasi Kesenian Enthus

Enthus Alrafi Gede/Net
Enthus Alrafi Gede/Net

PADA malam redup itu, jari-jarimu menari lembut penuh perasaan di atas kyboard mengiringi Paus Sastra Lampung Isbedy Stiawan ZS dan Eva Dwiana jelang Pilkada Kota Bandarlampung 2020 di Jl. Raden Saleh, Tanjungsenang, Kota Bandarlampung, Jumat (27/9).

Enthus Alrafi Gede, sang pemilik jari-jari penuh nada lembut yang sempat membuat air mata Bunda Eva, panggilan wali Kota Bandarlampung, tumpah saat mengiringinya baca puisi untuk sang ananda malam itu kini sudah tiada.

Beberapa jam sebelum Bunda Eva ditetapkan KPU Bandarlampung sebagai wali kota, tepatnya pukul 04.55 WIB, Enthus Alrafi Gede dipanggil oleh Sang Khalik, Alloh SWT.

Bunda Eva (kerudung merah) saat musikalisasi puisi Paus Sastra Lampung Isbedy Stiawan SZ, Enthus Alrafi Gede, Ali Imron (anggota DPRD Lampung dari Partai Golkar, Mufti Salim (anggota DPRD Lampung dari PKS), Ferdi Gursan (aktivis), Saiful Irba Tanpaka (sastrawan), Herman BM (RMOLLampung).

Lampung telah kehilangan seorang seniman santun yang terus mendedikasikan seninya  hingga di ujung usianya, 61 tahun, akibat serangan jantung.

Pascapensiun dari Dinas Pariwisata dan Ekraf Lampung, sang seniman baik hati itu diampu untuk ikut mengelola Pasar Kreatif dan Seni PKOR Wayhalim, Kota Bandarlampung. 

Paus Sastra Lampung termasuk yang sangat kehilangan. Enthus dengan rambut panjangnya yang memutih dan kalung berbandul batu aki besar selalu mendukung berkeseniannya Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS.

Kamis sore (18/2), Bang Is, panggilannya, mengirimkan puisi khusus dipersembahkannya untuk  saudara berkeseniannya itu, Enthus Alrafi Gede bin Luthfi, ke Kantor Berita RMOLLampung.

Musikalisasi Puisi saat dihadiri Bunda Eva, Isbedy Stiawan ZS diiringi alunan nada indah dari jemari Enthus Alrafi Gede/Lamban Sastra.

TERBAYANG IRAMA DARI JEMARIMU

: kenangan, N.GD

berangkat lebih dulu dari pagi

matahari pun ditinggal di peraduan;

“aku mesti tiba sebelum subuh,

ketika orangorang belum membawa

matahari sebagai suluh,” bisikmu

          kakiku terikat, kau tak terkejar;

melesat. cepat sekali. serupa kilat

dan aku, termangu di tepi ranjang

terasa basah segala pandang 

jalan membentang

         begitu jauh dari napasku 

         begitu dekat dari akhirku

terbayang irama dari jemarimu 

teringat aku pada denting itu

“selamat malam, di mana alamat 

rindu. kutuk aku, rindu!” bersenandung

kita

di tanahtanah yang gaduh 

di surga yang teduh

katakan, apa yang belum kita lunasi 

sebutkan, di mana akhir dari musik itu

: walau tak akan mampu 

kusenandungkan musik itu 

sebelum aku menetap di tubuhmu

— pedih yang sama,

luka bersama —

Karanganyar, 18 Februari 2021

Banyak yang berduka cita atas kepergian seniman yang penampilannya nyentrik tersebut. Kawan-kawannya serentak memenuhi media sosial dengan berita duka tersebut.

Kami berduka! 

Sahabat dan kawan kami, seniman musik Lampung, fajar tadi telah dipanggil Allah lebih dulu dari kami.

*Entus Alrafi Gd  bin Luthfi*

Hari ini, Kamis, 18 Februari 2021

Pukul 4.55

Kelahiran 4 Desember 1960

Mohon dimaafkan atas kesalahannya.

Semoga Alloh SWT mengampuni dosanya, dilapangkan kuburnya, diterima amal ibadahnya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan keikhlasan... Amin.

Keluarga Besar Kantor Berita RMOLLampung turut berduka cita,  wajah teduh, kesantunan, dan dedikasimu dalam berkesenian menjadi teladan bagi kami. Selamat jalan senior. 

*jurnalis