Pulau Tegal, Riwayat Dan Nasibmu "Pascaoperasi Plastik"




Separuh wajah Pulau Tegal "pascaoperasi plastik" tak lagi seperti gadis alami yang bebas "sampah" kosmetik tapi kini telah tampil menjadi ibarat sosok wanita modern bak sosialita.

Dua tahun lalu, Pulau Tegal adalah kawasan terbuka untuk pariwisata yang asri dan alami, tidak ada sampah. Di sekitar pantainya, siapapun bisa snorkeling, fishing, free diving, tanpa dipungut biaya sepeserpun.

Sejak tahun 1990-an, Pulau Tegal yang memiliki luas sekitar 100-an hektare merupakan kawasan wisata gratis dan tempat berbagai kegiatan ilmiah yang terbuka untuk masyarakat.

Pulau ini merupakan base camp bagi pelajar atau mahasiswa untuk kegiatan praktikum lapangan dari bidang studi yang mereka dapat di sekolah/universitas.

Para peselam memanfaatkannya pula buat wisata dan penelitian terumbu karang dan biota laut lain seperti aplikasi Metode Line Intercept Transect atau Manta Tow sebagai dasar monitoring ekosistem terumbu karang.

[caption id="attachment_24882" align="alignnone" width="650"] Pulau Tegal saat ini/Net[/caption]

Selain untuk kegiatan ilmiah, Pulau Tegal tempat ideal bagi para peselam pemula untuk menguji kemampuan menyelam di perairan terbuka antara lain dari Klub Selam Anemon Diving Club, FMIPA Universitas Lampung.

Dipilih Pulau Tegal, karena pulau ini memiliki pantai dengan wilayah terumbu karang yang relatif landai dan aman untuk penyelaman perdana mereka.

Tidak hanya kalangan pelajar atau mahasiswa, tetapi dari masyarakat umum telah menggunakan pulau ini sebagi tempat destinasi latihan penyelaman perairan terbuka.

Untuk kegiatan lain, pulau yang memiliki panorama yang indah, sangat menarik minat bagi pecinta pantai dan snorkeling.

Wilayah terumbu karang nya relatif dangkal dan memiliki perairan yang cukup jernih sehingga sangat menarik minat pagi pecinta kegiatan outdoor.

Pulau yang terletak di Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung ini berupa pantai pasir putih yang landai sebelah Barat, Selatan, Timur, dan Utara serta pantai berbatu sebelah Timur Laut, Tenggara, Barat Daya, dan Barat Laut.

Wilayah daratannya berupa dataran (dekat pantai) hingga berupa lerengan bukit (biasanya untuk bercocok tanam bagi penduduk).

Selain itu, Pulau Tegal memiliki teluk-teluk kecil, seperti Teluk Bajo dan Teluk Pengantin.

Pulau Tegal adalah pulau berpenghuni.' Setidaknya lebih dari 15 KK telah mendiami pulau ini dan tersebar di beberapa bagian pulau.

Mereka pada umumnya adalah petani nelayan dan pegawai keramba jaring apung (KJA) yang merupakan usaha dari beberapa investor.

Budidaya KJA ini telah ada dari tahun 2000-an dan tersebar di beberapa bagian pulau (Barat, Barat Daya, dan Tenggara).

[caption id="attachment_32214" align="alignnone" width="800"] Anshori Djausal dan keluarga ketika Pulau Tegal masih asri dan alami/Net[/caption]

Anshori Djausal, pakar ferosemen, budayawan, dan konservator sempat menjadikan pulau tersebut sebagai kawasan penelitian kupu-kupu. Di antara kupu-kupu yang ada di pulau, kupu-kupu langka.

Dia minta ijin Babay Chalimi untuk mengeksplorasi kupu-kupu, diving, dan lainnya. Sang pengusaha malah menginjinkan bangunannya jadi markas Bang An, panggilan Anshori Djausal, di pulau tersebut.

"Saya memang membiarkan pulau tersebut sebagai kawasan terbuka, siapapun, termasuk nelayan, silahkan memanfaatkannya, yang penting dijaga kelestariannya," kata Babay Chalimi.

Dua tahun terakhir ini, sepotong pulau tersebut telah berubah wajah, khususnya kawasan seluas 60-an hektare yang dulunya dikuasai Babay Chalimi.

Tanpa sepengetahuannya, kawasan tersebut berubah rupa dan fungsi oleh Tegal Mas Island menjadi kawasan wisata "artifisial", pangkas bukit, timbun pantai, dan berbayar.

Nelayan, pelajar, dan mahasiswa tak bisa lagi membuat base camp. Klub Selam Anemon Diving Club kehilangan lokasi penelitian, latihan, dan upaya konservasi terumbu karang.

Komunitas Senyum (Komnyun) yang ikut mensosialiasikan pariwisata kawasan Teluk Lampung kini hanya bisa senyum kecut mengikuti perkembangan kasus pulau tersebut di KPK dan sejumlah kementrian.