Reihana 17 Tahun Kadiskes, Covid-19 Makin "Menggila"

Kadiskes Lampung Reihana saat berbincang-bincang dengan Gubernur Lampung Arinal/Foto Ist
Kadiskes Lampung Reihana saat berbincang-bincang dengan Gubernur Lampung Arinal/Foto Ist

Reihana, mungkin, kepala dinas terlama di Lampung, 17 tahun. Namun, jam terbangnya, sepertinya tak teruji dalam menghadapi pandemi Covid-19 di provinsi tanggungjawabnya.

Kadis ini sudah sangat senior: dua periode kepemimpinan Gubernur Sjachroedin ZP, satu kali Gubernur Ridho Ficardo, dan kembali dipercaya Gubernur Arinal djunaidi sampai hari ini.

Namun, jam terbangnya yang tinggi itu, tak mampu menekan laju penularan Covid-19 di daerahnya akhir-akhir ini. Di pusat kotanya, Kota Bandarlampung masuk Zona Merah, warga terinfeksi Covid-19 terus naik. Rumah sakit lumayan kewalahan, katanya.

Di 14 kabupaten dan kota lainnya, mereka yang terinfeksi Covid-19 juga semakin bertambah. Setiap hari, ada penambahan warga yang dinyatakan positif Covid-19 di provinsi ini.

Warga Lampung yang terpapar corona sudah tembus 1522 orang per hari Jumat (23/10/2020). Setiap harinya tercatat 62 kasus baru terkait Covid-19 yang belum ada obatnya tersebut.

Berdasarkan pengamatan Nizar Affandi, pengamat sosial dan politik, dibandingkan rata-rata nasional dan regional Sumatera, posisi Lampung cukup memprihatinkan.

Secara nasional kenaikkannya sekitar dua kali lipat dan di Sumatera sekitar tiga kali lipat.

Diuraikannya seperti dalam opininya, secara nasional selama tujuh minggu terakhir terjadi lonjakan kasus positif baru sebesar 215% sementara di Sumatera kasus positif baru meningkat sebesar 305%.

Di Lampung, kenaikkannya hampir mendekati empat kali lipat sebesar 390%. Pertambahan kasus positif baru di Lampung meningkat signifikan dibandingkan provinsi lain di Sumatera dan Indonesia.

Selama 24 minggu atau 168 hari sejak tanggal 18 Maret sampai tanggal 2 September, jumlah penderita Covid-19 di Lampung, ada 410 orang, sembuh 334 orang dan yang wafat 16 orang.

Rata-rata,  setiap dua hari, penderita bertambah 5 orang dengan tingkat kesembuhan 81,46% dan kematian 3,9%.

Sejak 3 September sampai 25 Oktober, 53 hari, jumlah penderita bertambah 1.191 orang menjadi 1.601 orang, rata-rata bertambah 45 orang setiap dua hari.

Pasien yang dinyatakan sembuh bertambah sebanyak 607 orang menjadi 941 orang dan yang wafat bertambah sebanyak 45 orang menjadi 61 orang.

Jumlah angka kesembuhan secara nasional meningkat sebesar 241%, di Sumatera meningkat sebesar 373%, dan di Lampung meningkat sebesar 282%. 

Tingkat kesembuhan di Lampung relatif masih lebih baik dibandingkan rata-rata nasional walaupun masih lebih buruk jika dibandingkan dengan rata-rata di Sumatera.

Jumlah angka kematian secara nasional selama tujuh minggu terakhir naik sebesar 174% sementara di regional Sumatera naik sebesar 233%, sementara di Lampung angka kematian itu melonjak tajam sebesar 381%.

Jika dibandingkan di antara dua kurun waktu itu (2 September dan 25 Oktober), secara nasional angka kesembuhan mengalami perbaikan yang cukup menggembirakan dari 71,95% menjadi 80,51% dan angka kematian menurun dari 4,22% menjadi 3,51%.

Secara nasional semakin tinggi harapan pasien penderita Covid-19 untuk sembuh dan semakin kecil kemungkinan pasien meninggal dunia.

Di Sumatera, kenaikan angka kesembuhan lebih menggembirakan lagi, dari 58,03% di awal September kemudian melompat ke 70,78% di minggu keempat Oktober.

Sedangkan angka kematian juga menurun cukup baik dari 4,12% menjadi 3,15%. Secara regional di Sumatera, harapan pasien untuk sembuh juga meningkat tajam dan ancaman kemungkinan kematian juga mengalami penurunan.

Tetapi di Lampung perkembangannya tidak menggembirakan kondisi regional dan nasional. Angka kesembuhan dari 81,46% terjun bebas menjadi 58,77% sementara tingkat kematian relatif stabil dari 3,9% turun sangat tipis menjadi 3,81%.

Jika dibandingkan di antara 10 provinsi di Sumatera, untuk tingkat kesembuhan posisi Lampung saat ini berada pada posisi ke-8 alias urutan ke-3 terburuk dari bawah.

Sementara untuk tingkat kematian berada pada posisi ke-7 atau urutan ke-4 terburuk dari bawah.

Nizar Affandi mengaku sudah tabayyun ke Reihana tentang kondisi kesiapan PCR-Test saat ini. Terkonfirmasi, salah satu mesin uji yang sedang mengalami perbaikan sehingga untuk sementara belum bisa digunakan.

Dari keterangan beliau, Lampung selama enam bulan ini sudah melakukan PCR-Test sebanyak hampir 20 ribu sampel, kata Affan.

"Informasi yang cukup menggembirakan, tetapi ketika saya tanyakan dari sejumlah tes itu berapa persen yang kemudian dinyatakan positif dan berapa persen yang negatif, beliau belum menyampaikan jawabannya," ujarnya.