Selintas Warahan Radin Jambat, Cerita Turun-Temurun Nilai Kehidupan

Fath Syahbudin/Ist
Fath Syahbudin/Ist

WARAHAN merupakan karya sastra lisan masyarakat adat Lampung  yang berisi cerita rekaan, dongeng klasik tentang petualangan Radin Jambat (Sang Satria) bersama dua punangkawannya (pendamping).

Kedua punakawan atau punikawannya memiliki karakter yang bertolak belakang,  Puningkawan Makwaya yang temperamental dan Puningkawan Jukmuli yang luwes penyabar. 

Namun, keduanya memiliki kesamaan, yakni petarung yang tangguh. 

Warahan berasal dari kata warah (cerita) yang dilantunkan dengan cara bersyair (AB-AB). Ceritanya bersambung dari episode ke episode. 

Syairnya terkesan bombastis (berlebihan) yang didominasi humor yang menghibur para pendengarnya.

Di balik rangkaian syairnya, ada pesan bermakna tentang kehidupan sehari-hari sehingga  lekat di hati masyarakat. Maknanya semacam falsafah hidup yang sejalan dengan tuntunan agama.

Pada syair pembukanya, awal kalimat: Tabi numpang ngebimbing, cerita di cerita, cawa limban-mulimban, jak jaman balin jaman, ki damon buhhung hulun, kak buhhung munih nyakna.

Artinya, mohon maaf saya bercerita, cerita turun-temurun, kata berkelanjutan, dari jaman ke jaman, jika ternyata orang berbohong, maka berbohong pula saya.

Ilustrasi Festival Radin Jambat yang digelar setiap HUT Pemkab Waykanan/Net

Dari syair pembukaannya jelas, warahan tanpa naskah menjadi semacam cerita berisi nilai-nilai yang disampaikan dengan ringan dan diselingi humor dari generasi ke generasi.

Biasanya, warahan hiburan warga pada saat syukuran usai panen ataupun acara bahagia lainnya. Mereka  berkumpul pada malam hari ketika bulan purnama hingga jelang subuh.

Menelisik rangkaian syairnya, kita bisa memperkirakan bahwa warahan mulai pada masa peralihan atau awal masuknya Agama Islam. 

Hal ini tersirat pada syair, "Jeddo ngerrok kemeyan, Radin Jambat sa jenno, mantaw kepara diwa, diwa di Gunung Linti, diwa di Batu Midang, diwa di Pintu Langi, diwa di bulan bintang, diwa kepara diwanyak haga keantanan damon lagi wat bagi, nyak kilu turun cahya, kak radu siwa tahhun ampay mandi pinsan sa..."

Lalu, ada syair yang islami,"Nurqusah namamu air, Nurqodin namamu tubuh, selom ya haguk unggak nimbukko cahya pak, selom ya haguk liba nimbulko cahya lima, muripat ni ticakak nyinang alam deniya..."

Menyimak rangkaian syair pada episode berikutnya, terdapat kata demang, sindapati (depati-adipati), yang mengindikasikan nama jabatan pada Zaman Kolonial Belanda, yang berarti sekitar Abad ke-17 atau 18. 

Adapun kecenderungan menggunakan istilah Bahasa Melayu Riau yang kita jumpai pada syair sejak awal, hal ini sesuai dengan analisa saya bahwa masyarakat kita sejak jaman dahulu sudah gandrung modernisasi, seperti pada tulisan saya, "Rajin Ngebeli Liyom Ngejuwal" (Rajin Membeli Malu Menjual)

Seperti syair berikut ini, "Payuda kidah kiyay kita mulang di kampung.", bukan mulang di tiyuh.

Kemudian pada syair, "Gulang-gulang cara melayu, rambut panjang dibuntal tunggal, keris tepusat dihulu hati, kumis melingkung mencuket aban, di pinggang pedang bawa senapang, maknmunih kunyung muni dikuntak keni kiri dikuntak keni kanan, celeppur terebangan ikut angin giser-gemiser jalan di awang-awang.." (penulis jadi inget 'twenty nine my age').

Terkesan ingin berbahasa Melayu, tetapi dengan text book plus aksen Lampung yang kental 'Lampung kali pettok' (Lampung totok) istilah zaman dulu.    

Ilustrasi Radin Jambat bersama Putri Bettik Hati pada Festival Radin Jambat Pemkab Waykanan/Ist

Rangkaian syair mengawali episode ketika Radin Jambat memasuki kampung "Putri Betti' Hati" dan disapa oleh Sindapati, Sang Penguasa:  "Api idormu nakan mula tekessa' dija..way balak disan kudo..mula tisimbah dija..damon idor bejudi..dija ma' ngejuwara..ki haga ngunut muli..ma'wat dapo' nampani..ki idor bubaniyan..caka' pay kidah dija..ngabayko peguruwan.." 

Yang dijawab oleh Radin Jambat, "Dagu meletta' menyaring lantay..sumbah kunjung atas kepalo..tabi' Puun nabi'-tabi'. tabi' Puun nyumbah kaki..beliyaw Sindapati..ba' sangkan batangari..balak ma' asat ma'wat..magun-pagun ju' sangon..sengaja sikam hungja..midor layin bejudi..jawohko bubaniyan..ngunut keleppah puwari..kintu dapo' sebadan.."

Demikian dialog antara Radin Jambat dan Sindapati.

Episode ketika Radin Jambat tiba di kampung Puteri Betti' Hati, "Titontongko dirupa gohgoh kenawat bara..ma' liyom pangkat ratu..ngangkat ya jadi raja..terrangko dibidang suku..laju luwah merga..ca' cawa baybay tuhha..buwo' ka' bulu tellu..ma' ngennah rejji helaw..say mejjong lijung turuy..neppas dada ma' cawa..aguy-aguy mati nya' wuuy..alang hellaw jelemma."

Lalu dilanjutkan, "Tedduh ma' kunyung nerra'..negara tanjung yakin..ngemmi' meranay laga'..ma' kaku singkuh tuding..buparas ngejja'-kejja'..muli haga putanding..wat laju cika' kedda'..ngerawingko bulu kenning..hulun gerring dinya' ma'..celaka tanjor ninding.."

Syair yang melukiskan histeria para gadis yang bersolek, berlomba menarik perhatian Radin Jambat dan inilah suasana ketika Radin Jambat berhadapan  dengan Sang Puteri,"Damon imbani kayu berantih pulan ngura..damon imbani ikan jelabat ngeharisan.. Ucap pegaru' cawa..ka' nirih layin judu mari sisal peraja..kusi ucap tikenna..puteri sina jenno..rasa tengaya'-aya'..gohgoh kuda cekellang..lijung tellu ratong pa'..nom pitu say ngeruwang..pungennah rebboh aya'..alam ka' gincing miring..kerbaw ka' tungkah pa'..liman ka' rupa kucing..teliyu manu' handa'..duca' kenni.. buninting." 

Syair kocak yang melukiskan momen (salah-tingkah) Sang Puteri ketika melihat ketampanan 'Sang Satria' Radin Jambat.     

Sebagai pewaris kita bangga dan bersyukur atas 'Karya Besar' Warahan Radin Jambat. Syairnya yang jenaka membuat kita tertawa terbahak-bahak. Pada syair yang sendu, mampu membuat mata kita berkaca-kaca. 

Bahkan pada episode terakhir, ketika mengantar jenazah Puteri Betti' Hati menuju pemakaman, kita seakan mengembara menembus lorong waktu, terbawa oleh kekuatan syair yang magis, membuat bulu roma merinding serta rasa haru yang dalam. 

Setelah melewati peperangan panjang menaklukkan Radin Pinang, sang musuh utama, Radin Jambat membawa Puteri Betti' Hati sebagai anak mantu (menantu).

Namun ketika diterima 'Kiyay Sang Ratu Jambi', Sang Puteri sudah dalam keadaan kritis. Ketika Sang Puteri memaparkan barang-barang bawaannya, sungguh sangat menyayat hati.

Terlebih pada saat Sang Puteri  menyapa 'Puteri Mas Kemala' (Uyang Luni'/adik Radin Jambat) membuat kita benar-benar hanyut dalam suasana duka.

Seusai   menyerahkan sejumlah kain tapis serta bawaan lainnya, Sang Puteri pun wafat.

Warahan Radin Jambat ternyata berakhir dengan sad ending, bukan happy ending.  

Demikian selayang-pandang nukilan dari Warahan Radin Jambat yang bisa saya himpun. 

Sebuah karya sastra lisan berdurasi enam jam yang hanya ada di daerah kita. 

Semoga menjadi warisan budaya yang membanggakan bagi generasi Sai Bumi Ruwa Jurai. 

* Budayawan Lampung