Setengah Tahun Pandemi Covid-19 Di Lampung (1)


BEBERAPA hari yang lalu, saya membuat surat terbuka melalui media kepada Gubernur Lampung Arinal Djunaidi. Dengan sehormat-hormatnya, saya memohon beliau berkenan berbicara langsung kepada publik untuk menjelaskan perkembangan situasi dan penanganan pandemi Covid-19 di Lampung.

Surat itu tidak dibuat karena saya kegenitan ingin berkorespondensi (saling berkirim surat) dengan Gubernur Lampung atau karena alasan sepele lainnya.

Surat itu saya buat karena saya khawatir dengan angka reproduksi efektif (Rt) di Lampung yang selama dua minggu terakhir mencapai 2,23.

Apa itu angka reproduksi? Angka reproduksi adalah angka yang menunjukkan kemampuan penyebaran sebuah penyakit.

Angka yang melambangkan jumlah rata-rata orang yang bisa ditulari oleh seorang pengidap.

Angka tersebut menjadi kunci dalam pengambilan kebijakan berbagai pemerintah di seluruh dunia mengenai pencabutan karantina wilayah alias lockdown, atau dalam kasus Indonesia disebut dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Jika angka reproduksi lebih tinggi dari satu, maka berarti jumlah kasus meningkat secara signifikan seperti bola salju yang bergulir.

Namun jika angkanya lebih rendah dari satu, maka penyakit itu lama-kelamaan akan menghilang karena tidak banyak orang baru yang tertular.

Karena itu pemerintah di seluruh dunia ingin menurunkan angka reproduksi pandemi Covid-19 menjadi di bawah satu.

Inilah alasan mengapa sejumlah pemerintah meminta para pegawai bekerja dari rumah serta menutup sekolah-sekolah, agar orang-orang tidak saling bersentuhan sehingga dapat memotong kemampuan virus untuk terus menyebar.

Dengan angka reproduksi efektif sebesar 2,33 itu di Lampung, setiap orang pengidap virus Covid-19 dapat menularkan virus itu kepada 2,33 orang lainnya atau ekuivalen (sepadan) dengan setiap 100 orang pengidap Covid-19 dapat menularkan virus kepada 233 orang lainnya.

Surat itu saya buat juga karena saya khawatir melihat angka positivity rate di Lampung dua minggu terakhir yang mencapai 14,33%.

Apa itu positivity rate? Positivity rate adalah persentase dari pasien yang memiliki hasil tes positif Covid-19.

Cara menghitungnya dengan membagi jumlah total kasus positif dengan jumlah PCR-Test yang dilakukan terhadap populasi.

Dengan angka positivity rate sebesar 14,33% itu berarti terdapat 14,33 orang pengidap virus COVID-19 dari setiap 100 orang yang melakukan PCR-Test atau ekuivalen dengan terdapat 1.433 orang pengidap dari setiap 10 ribu orang yang melakukan PCR-Test di Lampung.

Itulah sebabnya sejak awal pandemi Presiden Jokowi berulang kali menyampaikan amanatnya untuk melakukan pengujian massif dan pelacakan agresif dengan rasio jumlah tes minimal sesuai standar badan kesehatan dunia, WHO.

Pesan itu berulang kali disampaikan dalam berbagai kesempatan kepada seluruh kepala daerah khususnya para Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di daerah.

Tetapi Gubernur Lampung tidak bergeming, rasio jumlah PCR-Test di Lampung tidak kunjung meningkat signifikan, masih sangat jauh berada di bawah standar minimal WHO, masih di bawah 5% dari persentase rasio minimalnya.

Tertinggal jauh dari apa yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Selatan dan provinsi-provinsi lainnya.

Dengan rasio PCR-Test yang begitu rendah, tidak berlebihan jika publik khawatir bahwa status zona di Lampung bisa jadi seperti buah semangka, kulitnya berwarna hijau tetapi isinya berwarna merah.

Karenanya saya tidak pernah berkecil hati terus menerus bertanya dan menulis tentang hal ini, kalau Presiden Jokowi saja tidak langsung didengarkan oleh Gubernur Lampung, apalagi anda dan saya? (Bersambung)

* Ketua MKGR Lampung