Pemudik Datang, Setiap Pekon "Lockdown" Di Lampung Barat




Para pemudik mulai berdatangan, semua aparat pekon/desa se-Kabupaten Lampung Barat me-lockdown pekonnya untuk mencegah penyebaran virus corona.

Mereka mensterilisasi pintu masuk dan menyiapkan setiap kantor peratin dan fasilitas lain jadi ruang isolasi mandiri bagi pemudik atau pendatang.

"Sesuai amanat Bupati Parosil Mabsus buat para aparat pekon," kata Ketua DPC APDESI Lampung Barat Juhairi kepada Kantor Berita RMOLLampung, Jumat (3/4).

[caption id="attachment_37309" align="alignnone" width="800"] Salah satu posko pencegahan covid-19 ke Kabupaten Lampung Barat/Foto Dona[/caption]

"Mari kita perketat dan sterilisasi semua pintu masuk pekon. Bukan pekerjaan mudah, perlu sinergisitas semua pihak termasuk TNI dan Polri," ujarnya.

Camat Pagar Dewa M.Yones mengatakan telah memerintahkan setiap pintu masuk pekon wilayah kerjanya disterilisasi.

Selain itu, katanya, setiap pekon juga diharuskan menyiapkan kantor peratin dan fasilitas lain menjadi ruang isolasi mandiri bagi para pemudik.

"Jadi untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, kami akan melakukan sterilisasi dan isolasi mandiri," ujar alumni STPDN ini.

Dia berharap para tamu, pendatang, dan pemudik untuk bersikap kooperatif.

Peratin sebagai perpanjangan tangan bupati harus menjadi pelopor terkait kebijakan pencegahan pademi covid-19, tandasnya.



Parosil Mabsus

Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus bersama aparat pekon, TNI, Polri dan lainnya menjaga semua pintu masuk pekon, pendataan tamu, pemeriksaan kesehatan hingga penyemprotan disinfektan.

Pak Cik, panggilannya, juga mengeluarkan perintah agar semua jajarannya bergerak sterilisasi wilayahnya, memberikan jaminan hidup warga, keamanan pasien dan keluarga selama karantina.

"Yang tak kalah penting, asupan gizi bagi orangtua, balita dan ibu hamil," ujar alumni FKIP Universitas Lampung berjuluk "Bupati Kopi" itu.

Pak Cik mengatakan pasien dan keluarga terdampak covid-19 akan mendapatkan Program Jaminan Hidup dan jaminan keamanan selama masa karantina.

"Pasien dan keluarga terdampak tak usah memikirkan kebutuhan hidup dan pengobatan agar fokus pada proses penyembuhan dan pemulihan saja," katanya.

"Selain jalur medis, kita juga wajib berserah diri, beribadah dan berdoa memohon agar perjuangan ini diberi kemudahan dari Sang Pencipta," tandas Pak Cik.