Sidang Korupsi Benih Jagung, 3 dari 10 Saksi Tidak Hadir

Suasana persidangan kasus korupsi benih jagung/Faiza Ukhti
Suasana persidangan kasus korupsi benih jagung/Faiza Ukhti

Jaksa Penuntut Umum menjadwalkan 10 saksi dalam sidang korupsi Pengadaan Bantuan Benih Jagung untuk Provinsi Lampung Tahun Anggaran 2017 di Pengadilan Negeri Tanjung Karang, Kamis (18/11).


Di antaranya, Ketua kelompok kerja (Pokja) pengadaan benih jagung Hermalia dan anggota Pokja Abdi Winardi, Darma Gunawan, Andi Wijanarko, Tuli Mahawijaya dan Hardianto setiadi. 

Kemudian, hadir M Yusuf dan Munandar dari Kementerian Pertanian yang tidak hadir saat dijadwalkan minggu sebelumnya. 

Sementara itu, ada tiga saksi yang tidak hadir yakni Direktur PT Agri Kemia Natura Ilham Mendrofa, Direktur PT Esa Fernando, dan Pedagang Free Market bernama Deddy Adnan. 

Dalam persidangan, Hermalia diminta untuk menjelaskan proses pengadaan dalam pokja. Menurutnya, Pokja bertugas melakukan penyusunan pengadaan, mengumumkan calon penyedia, evaluasi dan kualifikasi serta pemenang. 

Hermalia melanjutkan, dia diberi short list berisi 6 perusahaan rekanan yang dinyatakan lolos kualifikasi oleh PPK. Termasuk PT Dempo milik terdakwa Imam Mashuri yang tertulis sebagai distributor benih jagung. 

Penunjukkan tersebut dilakukan berdasarkan short list dari almarhumah terdakwa Herlin Retnowati dan sudah disetujui dengan ditandatangani oleh terdakwa Edy Yanto mantan Kadis Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Lampung).

Terdakwa Imam mashuri kemudian menyanggah pernyataan Hermalia. Dia mengatakan, PT Dempo memang produsen benih padi tapi juga merupakan distributor benih jagung. 

"Apa yang anda maksud di short list disetujui kepala dinas, maksud anda apa? Saya tidak pernah tanda tangan itu," kata dia. 

Kemudian Hermalia menjawab, dalam shortlist tersebut ada tanda tangan Edy Yanto, tertulis mengetahui Kepala Dinas Edy Yanto dan tanda tangan Dinas Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB). 

"Karena saat saya terima sudah ada tanda tangan," kata Hermalia. 

Sementara itu, para anggota Pokja mengaku tidak mengetahui pasti dan mengikuti proses pengadaan benih jagung serta tidak ada rapat. 

Salah satu anggota Pokja, Hardianto mengatakan pihaknya menentukan metode, membuat dokumen kualifikasi, mengumumkan jadwal pelaksana pengadaan, evaluasi dokumen penawaran. Setelah lulus evaluasi kemudian pokja mengusulkan dan menetapkan kepada PPK. 

Usai persidangan, kuasa hukum dari terdakwa Edi Yanto, Minggu Abadi Gumay mengatakan jika kliennya tidak pernah mengeluarkan shortlist tersebut.

Sehingga pihaknya menduga ada pemalsuan tanda tangan dalam short list tersebut. Selain itu, Edy Yanto membantah menyodorkan nama-nama calon pemenang.