SMP Muhammadiyah Kota Agung Denda Siswa Tak Kerja Bakti

SMP Muhammadiyah Kota Agung/ Ist
SMP Muhammadiyah Kota Agung/ Ist

Pihak Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah (SMP) Kota Agung Tanggamus, mengharuskan siswa melaksanakan kerja bakti membersihkan sekolah. Jika tidak kerja bakti, siswa akan dikenai sanksi berupa denda.


Berikut isinya:

Assalamualaikum, di infokan kepada sesi 1. Uang iuran diseragamkan dengan sesi 2 yaitu 27 ribu, jadi yang kemarin iuran tingal nambah aja.

Dari awal ibu bilang kalau uang iuran ini diambil dari sisa uang jajan, jadi tidak memberatkan orang tua. Untuk itu jangan sampai apa yang sudah kita sepakati kemarin jadi mis komunikasi ke orang tua kalian.

Uang denda beda dari uang sokongan. Ini diberlakukan karena gak sampai hati rasanya kalau yang lain kerja, habis uang ongkos buat ke sekolah lagi dsb, sementara kita tidak hadir dengan alasan.

Denda itu dikeluhkan oleh wali murid. Ia  mempertanyakan dasar kebijakan denda mulai Rp15 ribu sampai Rp63 ribu per siswa.

Seharusnya setiap kebijakan sekolah itu harus dimusyawarahkan bersama wali murid terlebih dahulu. "Karenanya saya berharap kebijakan itu bisa diluruskan, agar tidak terulang lagi kepada siswa lainnya, apalagi pada pesan Whatsaap yang beredar di grup sekolah itu terkesan ada pengondisian," keluh wali murid kepada media.

Kepala SMP Muhammadiyah Kota Agung, Okto Biantoro didampingi wakilnya menjelaskan, ada miskomunikasi pihak sekolah dengan orang tua siswa.

"Kemarin sudah saya datangkan orang tua siswa tersebut, dan saya pertemukan dengan wali kelas yang bersangkutan duduk bareng, dan sudah ada titik temunya," jelasnya.

Diakuinya kebijakan itu sudah ada sebelumnya dirinya menjabat sebagai kepala sekolah. "Kami membuat program lomba kebersihan sekolah, karena ini programnya dadakan kami belum sempat kami memberitahukan ke orang tua siswa, masalah ada pungutan atau denda saya tidak tahu, karena tidak ada perintah saya," jelasnya.

Ditambahkan, tidak tertuang dalam ketentuan program lomba tersebut untuk mengecat sekolah. Itu tercetus dari siswa yang mengatakan kalau dicat akan lebih baik, termasuk uang denda bagi siswa yang tidak mengikuti itu tercetus dari siswa. "Dan sekolah tidak melegalkan uang denda tersebut," tambahnya.