Subki E Harun Di Mata Zainal Abidin, Alzier, Hingga Sopirnya



Zainal Abidin Pagaralam, mantan gubernur kedua Lampung, sangat terkesan dengan Subki E Harun sejak masih kuliah jurusan ekonomi di Universitas Gajah Mada (UGM).

[caption id="attachment_58768" align="alignnone" width="720"] Sekdaprov Lampung ketika melepas jenazah Subki E Harun/Foto RMOLLampung[/caption]

Setahun jelang selesai kuliah, 1961, Subki yang sudah kontrak kerja dengan Departemen Keuangan RI,  "dipaksa" Zainal mulang tiuh (pulang kampung).

Sebagai "tanda jadi", Zainal mengirim wesel yang untuk ukuran mahasiswa masa itu sangat banyak. Selesai kuliah, Zainal mengirim wesel lagi untuk ongkos pulang.

Saat menyerahkan pembatalan kontrak kerjanya dengan Departemen Keuangan RI, ternyata Direktorat Pajak sudah menyediakan meja dan kursi buatnya.

[caption id="attachment_58769" align="alignnone" width="702"] Fahrizal Darminto/Foto RMOLLampung[/caption]

Apa boleh buat, Zainal dengan mulang tiuh-nya membuatnya lebih memilih membantu kakeknya Rycko Menoza tersebut di Kotapraja Tanjungkarang.

Ternyata, ayahandanya mantan gubernur Lampung, Syachroedin ZP ini punya rencana khusus buat Subki.

Zainal menugaskan Subki membuat perguruan tinggi negeri di Lampung. Kini, perguruan tunggi yang awalnya cabang dari Universitas Sriwijaya, jadi Universitas Lampung (Unila).

Tahun 1965, setelah pecah G30SPKI, Zainal Abidin menggantikan Koesno Danoepojo jadi penjabat gubernur Lampung.

Kembali, Zainal menugaskan Subki membuat Bank Pembangunan Daerah Lampung (BPDL) tanpa modal sepeserpun. "Saya sempat grogi," kata Subki.

Dengan kantor minjam pengusaha kelontong Cia Ki Meng, Subki memulainya di ruko Telukbetung. Modal awalnya, Rp1 juta pinjam pedagang minyak kelapa.

Masih banyak cerita Subki perjalanannya meletakan fondasi pemerintahan di Lampung, termasuk perjuangannya menjadikan Lampung jadi provinsi pisah dengan Sumatera Selatan.

Semua catatan terdokumentasi langsung dari beliau dalam buku Jejak Perjalanan Gubernur Lampung Periode 1966-1972: Zainal Abidin Pagaralam yang terbit 2010.

[caption id="attachment_58801" align="alignnone" width="517"] Alzier Dianis Thabranie[/caption]

Alzier: Orang Baik

Di mata Alzier Dianis Thabrabie, tokoh Lampung yang pernah memimpin tiga periode Partai Golkar Lampung, Subki E Harun orang yang baik, jujur, terus terang, dan apa adanya.

"Beliau menjabat sekda Provinsi Lampung dan wakil gubernur Lampung yang terlama," kata Alzier kepada Kantor Berita RMOLLampung, Sabtu (11/7).

"Beliau selama berkuasa tak pernah sok kuasa, sok hebat, sok pinter," tandas gubernur terpilih 2004.

Padahal, kata penggagas Kabupaten Pesawaran ini, beliau ahli ekonomi, mantan direktur utama Bank Lampung, kata Alzier.

Dia berpesan kepada generasi muda saat ini, utamanya dari Kabupaten Waykanan, belajar dengan tokoh seperti Subki E Harun.

Banyak yang belum tahu, ketika merantau sekolah di Bandarlampung, beliau numpang dengan saudaranya, jadi pesuruh, sopir, dll.

Alzier mengucapkan turut berduka cita dan mendoakan Subki E Harun yang meninggal, Jumat (10/7) di RSUD Abdul Moeloek, pukul 21.30 WIB, khusnul khotimah.

[caption id="attachment_58803" align="alignnone" width="565"] Pak Mul/Foto Muzzamil[/caption]

Sopir: Tak Pernah Marah

Di antara para pejabat dan mereka yang datang ke rumah duka, Sabtu (11/7), sosok sederhana yang selama 16 tahun, 1985-2001, jadi sopir Subki E Harun.

Pensiunan PNS, setelah didekati Muzzamil, bercerita kesannya terhadap almarhum.

"Yang paling berkesan, orangnya sangat baik, gak pernah marah sekalipun, humoris," ujar Pak Mul, sapaannya.

Sembari sesekali menghisap sigaret, dengan masker mengalung lehernya, ingatan Pak Mul merona.

"Ya kan saya lama juga ikut dia, enam belas tahun. Dari tahun 85, sampai 2001 saya baru balik ke kantor (kembali bertugas sebagai PNS, red)," imbuhnya.

Ditanya apakah almarhum juga kadang menyetir sendiri mobilnya, Pak Mul menepis. Ternyata, Pak Mul juga bukan sopir tunggal.

"(Almarhum) gak bisa (nyetir) Pak, selalu sama driver. (kalau sopirnya) Ada satu lagi, Pak Suhasa, cuman gak ada orangnya disini sih, udah pindah sih gak tau dimana tempat tinggalnya."

Terkait jasa baik almarhum, Pak Mul berulang menyebut sosok mantan anggota DPR/MPR 1992-1997 dan 1997-1999 itu, "sangat baik".

"Jasanya ya, karena selama saya ikut itu belum pernah kena marah ama dia. Orangnya sangat baik sekali sih, orang itu. Belum pernah namanya (saya) kena marah sama orang itu. Orangnya sangat baik dia itu orangnya," aku dia.

Sekitar pukul 11.03 WIB, perwakilan keluarga suami Hajjah Erminah, ayah tiga anak dan kakek tujuh cucu itu secara resmi menyerahkan jenazah mendiang kepada Pemprov Lampung, dalam upacara pelepasan.

Sejurus, "Atas nama Pemerintah Provinsi Lampung, dengan ini kami menerima jenazah almarhum Drs Haji Subki Elyas Harun bin Haji Elyas Harun yang akan dimakamkan di pemakaman keluarga di Jalan Perwira, Rajabasa, Bandarlampung," sahut cepat Sekprov Lampung Fahrizal Darminto, pembina upacara, saat prosesi penyerahan.

Ratusan pasang mata turut sembab. Andai dapat bicara, pun halnya papan bunga ucapan duka cita yang berdiri saling menghadap.

Di paling kanan depan pintu gerbang rumah, berdiri papan ucapan duka dari Gubernur Arinal. Dari Wagub Lampung Chusnunia Chalim di paling kiri.

Lainnya, nampak dari Sekprov Fahrizal Darminto, Walikota Bandarlampung Herman HN, Bupati Pesawaran Dendi Ramadhona, Dubes RI untuk Kroasia Sjachroedin ZP, Rycko Menoza SZP, Partai Golkar Lampung, paslonkada Way Kanan Juprius-Rina Marlina.

Juga dari Rektor dan Ketua Program Studi Program Pasca Sarjana USBRJ (Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai) Henni Kusumastuti, dan Dr Aprianis.

Diketahui, hingga akhir hayatnya, "Papi" Subki masih tercatat sebagai Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Saburai, pengampu PTS rintisan sejak 1977 itu.

Mengenang mendiang, Ketua TP PKK Provinsi Lampung Riana Sari Arinal, mengunggah foto lama almarhum saat tengah berpidato pada acara resepsi pernikahan Riana dengan sang pujaan hati, Arinal Djunaidi, medio 1988 silam.

Riana memanggil karib almarhum, Amijo. Baginya, Riana mengaku sudah seperti ayahandanya sendiri. "Semoga almarhum husnul khotimah," ia takzim.

"Beliau seperti ayah saya sendiri. Terakhir bertemu ketika saya memberi kuliah umum di Universitas Saburai, 1 tahun lalu. Beliau menyambut kedatangan saya, saya mencium tangannya. Dan beliau mencium kening saya ," aku hijabers alumnus Fakultas Hukum Unila ini mengenang.

Riana melanjutkan. "Saya merasakan ada kebanggaan beliau terhadap saya. Dan saya melihat beliau seperti sosok ayah saya."

Memungkasi, Riana Sari bertawakal. "Semua kuasa Allah SWT. Kehidupan ini rahasia Allah SWT. Selamat jalan Miajo," ucapnya.

Penelusuran di platform aplikasi pesan singkat dan jejaring media sosial pada Jum'at malam hingga Sabtu siang, beberapa tokoh ikut berbelasungkawa.

Antara lain, mantan Ketua Kadinda dan Ketua Partai Golkar Lampung M Alzier Dianis Thabrani, tokoh adat Lampung Mawardi R Harirama, Ketua IKA (Ikatan Keluarga Alumni) FH Unila Abdullah Fadri Auly, dan Rektor IIB Darmajaya yang juga Ketua Aptisi Lampung Dr Cand Firmansyah Yunialfi Alfian MBA.

Lalu, Ketua Yayasan Global Surya dan Yayasan Mitra Indonesia Dr Andi Surya, Bendahara Partai Demokrat Lampung Yandri Nazir, serta Zuli Hendriyanto, Ketua Himpunan Pemuda Lampung (Himpala) -- paguyuban sosial kaum muda "ulun" Lampung di Jakarta.

Per obituari, mendiang Subki yang lahir di Blambangan Umpu, Way Kanan, 23 Mei 1937, sebelum muhibah studi
ke SMP Pendidikan Angkatan Muda Budi Utomo, Jakarta, terlebih dulu sekolah di SMP Kotabumi, Lampung Utara, usai tamat Sekolah Rakyat/SR Blambangan, Way Umpu, Way Kanan.

Dia pun mengenyam jalur pendidikan menengah atasnya di dua almamater sekaligus. Yakni, di Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Bogor, Jawa Barat, dan Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Negeri 11 Jakarta.

Membanggakan, "anak desa" seperti dia lukiskan dalam buku otobiografi berjudul Perjalanan Hidup Anak Desa tersebut, bisa membahagiakan orang tua dan keluarganya dengan sukses sandang status sarjana ekonomi dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Karakter kepemimpinan, kecakapan adaptasi lingkungan yang belakangan jadi modalitas kiprah karir birokrasi eks Karo Perekonomian, Kadispenda Provinsi Lampung, Pjs Bupati Lampung Selatan dan Lampung Tengah, Asisten II Setwilda, hingga Sekwilda Tingkat I Lampung era kepemimpinan Gubernur Lampung ke-3, R Sutiyoso (1973-1978) ini pun terasah saat aktif di organisasi mahasiswa intra dan ekstrakampus.

Dia tercatat pernah jadi Kepala Seksi Pendidikan HMI Komisariat UGM, selain jadi Komisaris Tingkat FE UGM.

Masih menjabat Sekwilda Tingkat I Lampung era Gubernur ke-4 Yasir Hadibroto (1978-1980), Subki yang pernah pengurus Keluarga Mahasiswa Sumatera Selatan (KMSS) Cabang Lampung, ketua Keluarga Pelajar Lampung, dosen merangkap Wakil Dekan Universitas Sriwijaya Cabang Lampung sekaligus ketua presidium (kelak cikal bakal Unila), melaju.

Mengisi kekosongan, dia naik emban sebagai wakil gubernur mendampingi Gubernur Yasir paruh tempo periode, 1980-1983, dan periode kedua Yasir, 1983-1988.

Dan masih bertahan juga setengah periode sebagai wagub, era Gubernur ke-5 Poedjono Pranyoto, 1988-1990.

Sebagai orang nomor dua di Lampung, nama mendiang berada di balik sukses sejumlah proyek pembangunan fisik.

Seperti pada pembangunan Dermaga Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, Unila, Bank Bukopin, GOR Saburai, Stadion Pahoman, Islamic Center Rajabasa, dan jalan nasional non tol Jl Soekarno-Hatta (By Pass) Bakauheni-Panjang-Natar-Sukarame.

Dia juga yang merancang proposal pemekaran wilayah kabupaten/kota di Lampung. Nama dia juga meletak harum dalam sejarah Bank Lampung. Subki berjasa membidani kelahiran Bank Pembangunan Daerah Lampung.

Sebelumnya, Jum'at, Kantor Berita RMOL Lampung mewartakan, berdasar keterangan kerabat almarhum, bekas Ketua KPW PRD Lampung 2000-2001 Anwar Syarifuddin, mendiang Subki telah menjalani perawatan intensif di RSUD Abdul Moeloek Tanjungkarang akibat sedikit gangguan kesehatan sejak pertengahan Juni 2020.

Sekali lagi, selamat jalan Papi Subki. Di pemakaman keluarga Jalan Perwira, Rajabasa, Bandarlampung, semayam engkau disana. Jejak karya dan jejak abdimu abadi.