Sudah Amankah Bunda Eva?


IKE Edwin, seorang jenderal polisi, terjungkal dalam proses verifikasi faktual (verfak) pencalonannya sebagai bakal calon wali Kota Bandarlampung di Novotel, Sabtu (21/8).


Calon dari Partai Golkar, Rycko Menoza masih "ngasong" kalo-kalo ada yang masih mau berkoalisi dengan partai yang dipimpin Gubernur Arinal Djunaidi detik-detik jelang pendaftaran ke KPU, 4-6 September 2020.


Eva Dwiana-Dedi Amrullah dan Yusuf Kohar-Tulus Purnomo yang sudah meluber dukungan partainya. Mereka melampaui target sepuluh kursi sebagai syarat pencalonan Pilwalkot Bandarlampung 2020.


Eva yang kerap dipanggil Bunda Eva dan Dedi, bekas anak buah suaminya di Pemkot Bandarlampung, telah mengantongi 20 kursi dari partai "gemuk", yakni PDIP (9), Nasdem (5), dan PKS (6).


Yusuf-Tulus juga kursinya lumayan banyak, ada 17 kursi dari Partai Demokrat (5), PAN (6), PKB (3), Perindo (2), PPP (1).


Tersisa, Partai Gerindra (7). Walau, dua hari ini berseliweran lewat gatget, surat rekomendasi yang ditandatangani ketumnya, Prabowo Subianto, buat Eva-Dedi.


Tinggal, apakah Rycko Menoza bisa merayu Partai Gerindra dari Eva-Dedi atau PAN (6) dari tangan Yusuf-Tulus seperti halnya Nasir-Naldi menggeser partai ini dari tangan Dendi Ramadona di Kabupaten Pesawaran?


Pertanyaanya lainnya sekarang, apakah Eva-Dedi yang nota bene pelanjut petahana sudah aman? Mereka masih harus menahan napas beberapa hari lagi sebelum pendaftaran ke KPU dan verfak dukungan partai.


Mengingatkan, ada pengalaman tragis ketika Pilkada Kabupaten Tulangbawang, tahun 2012. Frans Agung Mula Putra-Darwis Fauzi (Frada), putra mahkota petahana, tumbang saat verfak.


Ketika pendaftaran, putra petahana Bupati Abdurachman Sarbini (Mance) itu didukung PAN (Partai Amanat Nasional), PPP (Partai Persatuan Pembangunan), dan PBR (Partai Bintang Reformasi).


Pasangan yang digadang-gadang kala itu paling berpeluang ternyata kalah sebelum perang. Pelanjut kekuasaan petahana itu gagal karena PPP pilihan akhirnya ke Hanan A Razak–Heri Wardoyo. PBR ikut tegambui.


Pasangan Hanan A Raza–Heri Wardoyo (Handoyo) mendapatkan dukungan delapan partai:  (PDI, Demokrat, PKPB, PKS, PDK, Gerindra, PPP, PBR, PPI, PBB).


Heri Wardoyo, sebelumnya, selama karirnya berprofesi sebagai jurnalis, bukan politikus. Dia adalah adik kandung petinggi PT Sugar Group Companies (SGC) Heru Sapto.


PT SGC, perusahaan perkebunan dan pabrik gula terbesar di Indonesia, selalu berseteru dengan Mance dari soal tunggakan pajak, HGU, hingga beberapa lahan SGC yang dianggapnya milik marga.


Singkat cerita, anaknya Mance, Frans Agung Mula Putra kalah sebelum perang dan pasangan Handoyo duduk di kursi bupati dan wakil bupati periode 2013-2017.


Kini, rekan bos SGC, Purwanti Lee, Yusuf Kohar mencalonkan diri di Pilwalkot Bandarlampung. Yusuf kerap membantu Purwanti Lee terkait perusahaan sampai sosialisasi bakal calon gubernur.


Terakhir, tahun lalu, ketika KPK menyoal  pajak alat berat (PAB) PT Gula Putih Mataram (GPM), anak perusahaan SGC, Yusuf Kohar pasang badan.


Yusuf Kohar, sebagai ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Lampung, debat panas dengan KPK RI diwakili oleh Ketua Tim Wilayah III Korsupgah KPK, Dian Patria dan Desmon bersama tim dari Pemprov Lampung.


Kini, Yusuf Kohar berhadapan dengan Eva Dwiana yang visi dan misinya akan melanjutkan perjuangan suaminya, Wali Kota Bandarlampung Herman HN, untuk periode wali kota 2020-2025.


Apakah Bunda Eva akan mengalami nasib seperti halnya Frans Agung Mula Putra? Semua kemungkinan bisa terjadi. Istilah mereka yang ada di seputaran partai,  last minute, menit terakhir masih bisa berubah dukungan partai.


Yusuf Kohar menggandeng Tulus Purnomo, tokoh PDIP Lampung, pasti ada hitung-hitungannya, tak asal dicomot oleh Yusuf Kohar. Keduanya lalu berselogan YuTuber (Yusuf Tulus Bersama Kita).


Rekomendasi DPP PDIP No.1544/IN/DPP/VII/2020 tertanggal 1 Juli 2020 kepada Eva Dwiana, Selasa lalu (11/8), belum ditandatangani Ketum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri.


Pekerjaan rumah (PR) bagi Tulus, bagaimana massa PDIP bisa tetap mendukungnya, syukur-syukur Ketum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri merubah dukungannya buat mereka, last minute.


Eva yang sudah mendampingi suaminya sebagai Wali Kota Bandarlampung Herman HN mau tak mau kandidat paling moncer. Dia sangat populer di kalangan emak-emak, jaringannya juga sudah berlapis-lapis di akar rumput.


Yusuf Kohar walau juga berstatus petahana, wakil wali Kota Bandarlampung, namun minim prestasi. Dia sama sekali tak diberi kesempatan oleh Herman HN tebar pesona lewat tugasnya sebagai wakil wali kota.


Yang terkesan malah, masyarakat tahunya Yusuf Kohar itu sumbu pendek, gampang emosi. Dia terkesan sering mengumbar kritik lewat facebooknya yang malah membuat warga kurang simpati.


Misalnya, soal jembatan layang yang dibangun Herman HN. Yusuf tak setuju. Tapi, sebagian besar rakyat senang karena jalan lebih lancar oleh Herman HN.


Terakhir, dia mempertontonan karakter pemarahnya saat adu mulut dengan Lurah Tanjungbaru Hendri Satria, saat sosialisasi bagi-bagi sembako, Senin lalu (3/8).


Sampai ada yang komentar lewat akun facebook: Sial amat ya kita orang Lampung ini, pemimpinnya hobi marah-marah. Berlebih memang, tapi ada benarnya juga. Herman HN juga sering marah-marah.


Apa lagi Gubernur Lampung Arinal Djunaidi, sampai pernah melontarkan kalimat "innalilahi" kepada seorang reporter di tengah rapat terbuka dengan para pejabatnya.


Hasil survey internal salah satu partai besar yang dibocorkan seorang kader, dengan asumsi saat itu Ike lolos verfak, posisinya: Eva-Dedi 42 persen, Ike-Zam 25 persen, Yusuf-Tulus 20 persen, swing potter 13 persen persen.


Waktu makin mepet, mampukah YuTuber mengejar Eva-Dedi? Ada tiga caranya, yaitu mengejar simpati rakyat dalam waktu singkat, peretelin partainya seperti Frans Agung Mula Putra, head to head.


Sebagai petahana, peluang menang makin besar dengan lawan lebih dari dua pasang. Namun, sebagai penantang, lebih menguntungkan satu lawan satu agar suara yang tak menghendaki petahana terakumulasi ke penantang.


Walau, satu lawan satu, YuTuber juga belum tentu menang dengan Eva-Dedi. Apalagi kampanye saat ini ada kemungkinan pembatasan mobilisasi massa akibat pandemi Covid-19.


Calon kepala daerah sampai calon presiden yang didukung SGC khas sosialisasinya jalan sehat dan pangelaran artis terkenal dengan tentu saja banjir hadiah.


Jika Eva-Dedi gagal seperti Frans Agung Mula Putra, dengan asumsi Rycko juga gagal merayu partai yang mau berkoalisi dengan Partai Golkar, YuTuber melawan kotak kosong.


Tapi, mudah-mudahan Eva-Dedi lancar, aman, partainya solid bertarung pada Pilwalkot Bandarlampung 2020. Gak enak juga jika YuTuber kalah dengan kotak kosong. Apo uji wong, Lur?


*jurnalis*