Sudah Periksa 22 Saksi, KPK Buka Peluang Tersangka Baru Kasus Suap Rektor Unila

Juru bicara bidang penindakan KPK, Ali Fikri di Lampung / Faiza
Juru bicara bidang penindakan KPK, Ali Fikri di Lampung / Faiza

KPK sudah memeriksa 22 saksi untuk kasus suap penerimaan mahasiswa baru Universitas Lampung (Unila) yang melibatkan Rektor Unila Karomani.


Juru Bicara KPK Ali Fikri mengatakan, pihaknya masih dalam tahap melengkapi dan mengumpulkan barang bukti. Poin utama yang diselidiki KPK adalah motif untuk mendapatkan uang gratifikasi dan kegunaan uang tersebut.

"Nanti hubungkan apa yang melatarbelakanginya, niat untuk mendapatkan uang itu dan apa yang dilakukan dengan uang tersebut. Kami dalami dari saksi-saksi," ujar Ali Fikri saat temu media Roadshow Bus KPK 2022 di Pondok Rimbawan Bandar Lampung, Kamis (22/9).

Soal klaim Penasihat Hukum Karomani, Ahmad Handoko yang memberi bocoran penyuap Karomani, Ali Fikri meminta hal itu juga disampaikan di depan penyidik, bukan hanya di depan publik.

"Silakan dibuka di depan penyidik agar dituangkan di BAP (Berita Acara Pemeriksaan). Kalau disebutkan di ruang publik maka tidak akan jadi alat bukti," katanya lagi.

Menurutnya, jelas tidak mungkin penyuap Rektor Unila hanya tersangka Andi Desfiandi. Apalagi uang yang ditemukan penyidik saat ini Rp7,5 miliar.

"Untuk pemberi, terus kaki dalami siapa saja yang memberikan uang jalur mandiri. KPK tidak pernah berhenti dalam satu titik. Jika ditemukan dari dua alat bukti dari keterangan saksi dan bukti dokumen atau lainnya maka bisa ditetapkan tersangka," jelasnya.

Sehingga, KPK meminta masyarakat untuk menunggu perkembangan kasus suap Unila ini. Ia menjelaskan, untuk melakukan penyidikan, KPK membutuhkan waktu maksimal dua bulan.

“Dua bulan perkara ini kami pastikan sudah dalam proses penuntutan ditambah 20 hari nanti akan dilimpahkan ke pengadilan,” terangnya.

Diketahui, KPK telah menetapkan empat tersangka terdiri atas tiga orang selaku penerima suap, yakni Karomani, Wakil Rektor I Bidang Akademik Unila Heryandi, dan Ketua Senat Unila Muhammad Basri. Sedangkan pemberi suap adalah pihak swasta Andi Desfiandi.