Suplayer BPNT Tuding Penggilingan Padi Penyebab Masalah BPNT Tanggamus

Zairi
Zairi

Penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Tanggamus banyak menuai masalah sehingga dikeluhkan Keluarga Penerima Manfaat (KPM), mulai dari kualitas beras tidak layak konsumsi, serta keterlambatan penyalurannya.


Menanggapinya, Direktur CV Dwi Karya Makmur dan DSA menjelaskan, keterlambatan penyaluran barang bantuan pangan non tunai ke keluarga penerima manfaat pada sebagian kecamatan di Tanggamus, dikarenakan telatnya pengadaan beras dari pabrik pengilingan padi yang sudah dikontrak supalyee ini.

Sementara untuk stok penujang gizi berupa telor, ayam, buah dan lainnya barangnya ada namun penyalurannya harus berbarengan dengan beras, artinya tidak ada keterkaitan dengan naiknya harga-harga barang saat ini.

Dijelaskan Nahwan Taufik, terkait informasi e-Warung yang menyalurkan terlor 10 butir ke KPM per bulannya itu diluar pengetahuannya. CV Dwi Karya Makmur memberikan sesuai ketentuan 15 butir telor per KPM, terkait masalah tersebut tanyakan saja ke e-Warung yang bersangkutan.

"Rencana kalau tidak ada halangan hari ini barang-barang tersebut akan didistribusikan ke e-Warung masing-masing, kpm silahkan mengecek pada e-Warung tempatnya mencairkan bantuan," Jelasnya kepada Kantor Berita RMOLLampung, Selasa (4/1). 

Ditambahkan Nahwan, terkait kualitas beras tidak layak konsumsi, kuning kecoklatan, yang sempat disalurkan di Pekon Menggala Kecamatan Kotaagung Timur, karena kelalaian berasnya sempat kena hujan, tapi semuanya sudah diganti dengan beras kualitas bagus sesuai jumlah penerima yaitu 76 KPM. 

Kemudian dirinya menghimbau bagi semua KPM yang mendapatkan barang dari CV Dwi Karya Makmur dan DSA, kalau mendapatkan barang yang sudah tidak layak konsumsi agar segera melapor untuk menukarkan kembali, mereka siap menganti dengan jenis barang yang layak konsumsi. 

Senada dengan Nahwan, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Gisting, Ning Sulasih membenarkan keterlambantan itu faktor telatnya pengiriman barang dari CV DWI Karya Makmur. Dirinya sudah menanyakan, dikatakan mereka mengatakan keterlambatan itu dari pabrik pengilingan padi, di Ambarawa, Gading dan Kedondong.

Dikatakanya, e-Warung langsung setor ke rekening kedua Cv tersebut jadi tidak ada kaitannya dengan TKSk yang tugasnya memastikan barang saat penyaluran itu bagus, memastikan saldo itu ada, kemudian melaporkan berapa transaksi dan yang tidak transaksi. 

"Terkait dugaan ada permainan penyaluran oleh e-Warung kepada KPM khususnga pada jumlah telor, dirinya akan mengkonfirmasikan dulu. Penyaluran 15 butir telur itu dimulai per bulan Oktober 2021. Sebelumnya kpm memang menerima 10 butir per bulan setiap KPM," ungkapnya.

Informasi yang didapat Kantor Berita RMOLLampung, hari ini Komisi IV DPRD Tanggamus, mitra kerja Dinas Sosial akan hearing membahas carut marutnya penyakuran BPNT.