Syekh Ali Jaber Cahaya Indonesia Dari Madinah

Salah satu momen kebersamaan Syekh Ali Jaber, dan Hasan, putra pertamanya. Mubaligh kondang Tanah Air/Instagram @syekh.alijaber
Salah satu momen kebersamaan Syekh Ali Jaber, dan Hasan, putra pertamanya. Mubaligh kondang Tanah Air/Instagram @syekh.alijaber

"Walaupun Saya Lahir Besar di Kota Suci Madinah. Tapi Insya Allah Siap Mati di Indonesia," Sjech Ali Jaber.


WARGA Lampung ikut melarung kawat belasungkawa atas wafatnya mubaligh kondang Syekh Ali Jaber (44) setelah 17 hari berusaja lolos dari Ruang Isolasi Covid-19 RS Yarsi, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Kamis (14/1), pukul 08.30 WIB.

Lewat berbagai media sosial, warga daerah mengucapkan turut bela sungkawa. Tokoh masyarakat yang biasanya pasif mengikuti saja komunikasi dalam grup media sosial muncul mendoakan sang mubaligh.

Muzzamil, warga Kota Bandarlampung, ketua Badan Pekerja CeDPPIS, takzim menyampaikan turut kehilangan. "Kita kehilangan sosok pendakwah sejuk dari Qaryah al-Anshar, Madinah, Arab Saudi," katanya.

Dia berterima kasih kepada Ustadz Yusuf Mansyur (UYM), salah satu mubaligh yang membantu publik mengetahui pembaruan informasi perkembangan kondisi almarhum.

"Benar Syeikh Ali wafat, 08.30, sudah dalam keadaan negatif covid. Di RS Yarsi, Cempaka Putih, Jakarta. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji'un," tulis Ustaz Yusuf Mansur dalam unggahan videonya.

Muzzamil mewakili masyarakat Lampung mengucapka  terimakasih kepada seluruh tenaga medis RS Yarsi yang sekuat tenaga berusaha menyelamatkan nyawa almarhum. "Selamat jalan Syekh, engkau syuhada. Semoga husnul khotimah," katanya.

Senada, Ketua DPD Pejuang Bravo Lima Lampung, Ary Meizari Alfian, "Duka cita mendalam kami sampaikan. Rekam digital syiar dakwahnya akan jadi ladang pahala beliau."

Dia turut mendoakan agar kelak lahir Syekh Ali Jaber-Syekh Ali Jaber lainnya di masa depan. "Aamiin," ujar Ary Meizari yanng didampingi wakil ketua Yanuari Irawan, Kamis (14/1).

Syekh Ali Jaber yang bernama asli Ali Saleh Mohammed Ali Jaber sempat kritis bahkan tak lepas dari ventilator. Kondisinya sempat membaik sampai akhirnya santer kabar meninggal dunia.

Syekh Ali Jaber adalah dai tenar kelahiran Kota Madinah, Saudi Arabia, kota suci kedua umat Islam, yang punya 94 nama indah dan paling tenar ialah al-Madinah al-Munawwarah, Kota Penuh Cahaya.

Dia kini telah resmi berstatus WNI. Ayah dua putra, Hasan dan Fahad dari buah cintanya bersama Umi Nadia, sang istri yang dinikahinya tahun 2008 itu.

Ali Saleh Mohammed Ali memiliki empat saudara kandung, yakni Muhammad Saleh Jaber, Ahmad Jaber, Anas Jaber, dan Husain Jaber, Syekh Ali Jaber juga dikenal dengan buku karyanya, Cahaya dari Madinah.

Sedianya, 3 Februari nanti, usianya akan genap 45 tahun. Dia lahir 1976. Sayang, Allah SWT lebih sayang dia. Selamat jalan, Syekh Ali Jaber.

Ingin Dimakamkan Di Lombok

Dalam sebuah ceramahnya di Nusa Tenggara Barat (NTB) beberapa waktu lalu, Syekh Ali Jaber mengatakan bahwa dirinya ingin dimakamkan di Lombok jika meninggal dunia.

"Ya Allah, walaupun saya memilih dan memohon meninggal di Madinah, tapi kalau, ya Allah, kalau saya ditetapkan meninggal di Indonesia, mohon, saya mau dimakamkan di Lombok," kata Ali Jaber kala itu.

Kecintaan Syekh Ali Jaber terhadap Nusa Tenggara Barat, khususnya Lombok tak lepas dari perjalanan dakwahnya di Indonesia serta sejarah keluarga. Ia mengatakan merasa lebih nyaman berada di Lonbok.

"Ketika saya di Lombok ini, saya jauh lebih merasa nyaman karena ada ceritanya. Pertama, saya berjuang di Indonesia memang di Lombok. Anak saya lahir di Lombok. Kakek saya meninggal, mati syahid melawan penjajah Jepang di Lombok," tuturnya.

Ia juga menyebut bahwa mungkin sedikit orang yang tahu bahwa ia memiliki darah Indonesia. Kedua kakek Syekh Ali Jaber dari pihak ibu lahir di Indonesia, tepatnya di Bumiayu dan Lombok.