Tak Hanya Diucapkan, Pengamat Sebut Cinta NKRI Harus Direalisasikan dalam Perilaku

Akademisi UIN Raden Intan Lampung, Abdul Syukur/ist
Akademisi UIN Raden Intan Lampung, Abdul Syukur/ist

Pengamat terorisme dan radikalisme Lampung, yang juga akademisi UIN Raden Intan, Abdul Syukur mengingatkan masyarakat untuk memiliki pemahaman yang sama dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Menurutnya, cinta NKRI tidak hanya sekedar diucapkan, namun juga diamalkan dalam perbuatan. Sehingga sikap harus mencerminkan pengamalan Pancasila, dan UUD 1945 secara utuh baik lahir maupun batin. 

"Seperti kasus Pimpinan Khilafatul Muslimin, Abdul Qadir Baraja yang mengaku tidak menentang Pancasila, namun mengkafirkan sistem yang tidak sesuai dengan pandangannya sehingga pihak kepolisian bertindak. Ditambah lagi ada pengalaman masa lalu itu sebagai penguat," kata Abdul Syukur, Selasa (7/6). 

Lanjutnya, sikap yang mencerminkan cinta NKRI itu membawa kedamaian, patuh terhadap hukum dan pemerintahan. Bukan meresahkan masyarakat. 

"Pihak berwajib harus lebih waspada terhadap perkembangan radikal teroris termasuk yang dilakukan oleh ormas yang radikal. Masyarakat juga harus memiliki paham yang sama untuk menjaga persatuan NKRI," ujarnya. 

Sebelumnya, Pimpinan Khilafatul Muslimin Abdul Qadir Baraja diamankan Ditreskrimum Polda Metro Jaya pada Selasa (7/6) pagi di Kantor Pusat di Jalan WR Supratman, Bumi Waras, Bandar Lampung.

Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Hengky Haryadi menyebutkan bahwa yang diamankan ini merupakan mantan narapidana kasus terorisme, dua kali ditahan selama 3 tahun dan 13 tahun. 

"Dalam hasil penyelidikan kami ternyata ada hal yang sangat kontradiktif dari apa yang disampaikan oleh pimpinan pimpinan Khilafatul Muslimin," katanya saat ekspose di Polresta Bandar Lampung. 

"Kami temukan peristiwa pidana ternyata kegiatan kegiatan yang dilaksanakan ormas ini, baik ormas yang tidak terdaftar maupun yang berbadan hukum, ternyata kegiatan ini sangat bertentangan dengan Pancasila," sambung Hengky.