Takkan Mati Ide, Fitri Restiana Pilih Buat Buku Cerita Anak

Fitri Restiana/ Tuti
Fitri Restiana/ Tuti

Tak ingin pengalaman dan ide cerita anaknya hilang tertelan waktu, Fitri Restiana memutuskan untuk mengabadikannya lewat buka cerita anak. 


Buku yang berjudul Lezatnya Sambal Seruit merupakan salah satu buku yang terinspirasi dari kedua anaknya. Satu anaknya suka pedas dan yang satunya tidak. 

"Dalam buku itu menceritakan seorang anak yang ingin mencoba sambal seruit namun takut pedas. Tapi pada akhirnya anak itu mencobanya karena tergoda melihat sepupunya makan seruit," kata Fitri Restiana, Rabu (20/10).

Sebelumnya, Fitri mengaku bekerja sebagai penulis lepas di media terhitung sejak 2014, namun setelah mengikuti seminar kepenulisan cerita anak, ia tertarik karena memang banyak ide cerita.  

"Mulai nulis buku anak sejak 2016, saat itu mengikuti kelas penulisan buku cerita anak. Saya mendapatkan challenge untuk mengirimkan cerita anak dan saya mengirimkan lebih dari satu certa, sampai akhirnya Watiek Ideo mengajak berkolaborasi untuk menulis buku seris cerdas mengelola emosi, waktu dan uang," ujarnya. 

Dari situ, Fitri termotivasi untuk menulis lebih banyak cerita anak, hingga saat ini buku yang telah Fitri tulis sebanyak 31 buku. 

"Baru saja saya mendapat kabar naskah yang saya kirim terpilih dan akan diterbitkan. Jadi ini mau 32 buku," jelasnya. 

Ketika menulis buku cerita anak, Fitri mengibarkan dirinya sebagai sebagai anak yang selalu riang gembira. Tidak boleh menulis dalam kondisi kesal atau marah, karena rohnya tidak akan muncul. 

"Menulis buku cerita anak itu juga harus sangat berhati-hati dalam penggunaan diksi, karena buku anak itu mendukung untuk mengembangkan imajinasi anak," ujarnya. 

Saat menulis, tentu Fitria pernah mengalami titik jenuh. Biasanya ia akan menghentikan aktivitas menulisnya, dan memiliki ke toko buku untuk membaca buku cerita lainnya. 

"Berbincang dengan teman, atau mendengarkan curhat juga bisa menghilangkan rasa jenuh saya. Biasanya setwlah 2-3 hari rasa jenuh saya hilang," jelasnya. 

Menurutnya, menulis buku anak cukup menguntungkan, yang mana dirinya mendapat 10-30 persen dari penjualan bukunya. Ia berharap generasi muda khususnya mahasiswa mau menulis cerita anak, tidak hanya menulis novel. 

"Diharapkan juga buka cerita anak tidak hanya untuk menghibur atau mengedukasi namun seimbang antara menghibur dan mengedukasi. Sehingga anak-anak itu bisa jatuh cinta pada buku-buku, apalagi saat ini buku telah dialihkan oleh gawai," ujarnya.