Tenggelamnya Nanggala 402 Jadi Pengganjal KSAL Dipilih Jokowi Jadi Panglima TNI

KSAL Laksamana TNI Yudo Margono/Net
KSAL Laksamana TNI Yudo Margono/Net

Peristiwa tenggelamnya KRI Nanggala 402 dianggap sebagai pengganjal KSAL Laksamana TNI Yudo Margono untuk dipilih sebagai Panglima TNI.


Pakar politik dan hukum Universitas Nasional (Unas), Saiful Anam mengatakan, peristiwa tenggelamnya kapal Nanggala sangat sulit dilepas dari ingatan rakyat Indonesia, dan bahkan masyarakat dunia karena sangat menggemparkan.

"Di mana pada waktu itu mendapat simpati dan empati dari rakyat seluruh dunia mengapa hal tersebut harus terjadi," ujar Saiful dikutip Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (5/10).

Menurut Saiful, jika terdapat kehati-hatian dalam mengoperasikan kapal yang sudah tua, kemungkinan peristiwa tersebut tidak mungkin terjadi.

"Atau misalnya kalau saja KASAL menginstruksikan agar mencegah agar pengoperasian Kapal Nanggala, bisa jadi peristiwa tersebut tidak akan terjadi," kata Saiful.

Atas peristiwa itu kata Saiful, menimbulkan beragam penilaian dari publik. Bahkan, peristiwa itu dianggap menjadi acuan bagi Presiden Jokowi untuk memilih Panglima TNI pengganti Marsekal TNI Hadi Tjahjanto.

"Ada juga yang menilai KASAL tidak layak untuk mengemban amanah sebagai Panglima karena terganjal peristiwa Nanggala di perairan utara Bali," terang Saiful.

Saiful pun menduga, hak tersebut akan terus berhembus karena peristiwa tersebut dapat diminimalisir, apalagi menimbulkan korban yang tidak sedikit.

"Penilaian-penilaian itulah yang bisa jadi membuat publik bahkan Jokowi enggan untuk memilih KSAL untuk diploting menjadi Panglima TNI," pungkas Saiful.