Tentang Dua Kota yang Ditutup

Isbedy Stiawan ZS/Majalah Karas Balai Bahasa Jateng
Isbedy Stiawan ZS/Majalah Karas Balai Bahasa Jateng

INI bukan dua kota -- Sodom dan Gomora -- yang dibalikkan Tuhan dalam kisah Nabi Luth As., sehingga tiada bentuk lagi. 

Dalam kisah Luth As., dua kota itu dibolak-balik hingga luluhlantak, disebabkan keingkaran umat nabi Luth As. Sebagai cara Tuhan menyisakan atau  mengganti umat terbaik sebagai khalifah fil ard.

Masa pandemi Covid 19 semula banyak memrediksi segera berakhir. Dengan berbagai analisa ilmiah ataupun ada yang menyelingi guraun. Tetapi virus bukan berbentuk nyata, artinya bisa dilihat. Tuhan Mahakuasa punya rencana yang tidak bisa dimengerti oleh seluruh makhluk di muka bumi. 

Bayangkan, dimulai dari Wuhan lalu menyebar hampir seluruh negara di muka bumi. Tetapi, tempat asal justru kini mulai terasa adem. Malah India bagaikan bom yang meledak. Termasuk di Indonesia! Seluruh wilayah Jawa dan Bali kini di Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro. Menyusul dua kota di Provinsi Lampung, yaitu Bandar Lampung dan Metro mulai Senin (12/7/2021) dinyatakan PPKM Darurat.

Astaghfirullah. Boleh jadi kita tak menyangka akan terjadi sengeri ini. Kita seperti tidak percaya Kota Balam dan Metro akan diputuskan PPKM Darurat, yang berarti amatlah mengancam jiwa warga dan ini sangat menyèramkan. 

Ini realita. Ini fakta. Kita bukan sedang menikmati untaian kisah dalam novel Albert Camus, "Sampar". Pun bukan lagi menderas kembali kisah di zaman nabi Luth. 

Sejak Senin (12/7/2021), ini hari, berarti Bandar Lampung dan Metro seakan ditutup total: pintu masuk dan pintu keluar. Warga diimbau berada di rumah saja, kecuali menyangkut keperluan mendesak dan mendesak.

Bukan main-main, bukan sekadar untuk menakuti masyarakat. Biar pun sisi lain warga diminta jangan panik. 

Ya antara kecemasan dan panik, rasa-rasanya bagai dua mata sisi logam. Anda meminta saya jangan cemas, tapi ancaman tanpa kasat mata amat menghantui keselamatan jiwa. Apakah itu kontradiktif. Absurd, kalau kita menggunakan kacamata saat membaca "Sampar" karya Albert Camus. 

Kehidupan ini akhir-akhir ini mendekati absurditas itu. Antara berjalan dan mendekat kematian, begitu sulit dibedakan.

Tentu, dua kota yang ada di dalam kisah umat Luth, berbeda dengan Kota Bandar Lampung - Kota Metro yang sekarang memulai PPKM Darurat.

Satu yang disebut awal untuk menghapus umat yang ingkar pada-Nya. Dan satunya lagi, Tuhan (semoga) sangat sayang dan menunjukkan kasihsayang-Nya dengan menjaga dan hendak memertahankan umat-Nya. Maka melalui tangan penguasa, ditetapkan PPKM tersebut. 

Tuhan juga menguji seberapa besar tingkat kesabaran, keimanan, ketakwaan umat abad kini. Demgan didatangkan pandemi atawa virus bernama Covid 19. Boleh jadi, insyaAllah haqul yakin, mereka yang mendahului kita karena terpapar Covid 19 adalah umat pilihan yang disayang Allah. Tuhan amat sayang. Sayang Allah dengan caranya sendiri. Dia lindungi, Dia jaga, dengan misalnya dipanggil lehih cepat agar tak menderita atau dicukupkan amal ibadahnya selama hidup. Begitu pun bagi yang disembuhkan - diselamatkan - bisa jadi sebagai bentuk ujian juga. Apakah setelah sehat akan semakin berkualitas ibadahnya, kian tinggi kuantitas amal jariah dan ketundukan pada Allah. 

Segala ada takarannya, sesuai kemampuan umat manusia. Bukankah Allah tidak memberi beban pada umat melebihi takaran kemampuan umat-Nya?

Hari ini juga, Senin (12/7), saya (dan anak) pun harus hijrah dulu ke rumah keluarga. Sebab, ini untuk kehati-hatian, bahwa isteri baru saja mengunjungi ibunya hingga memakamkan di Tulangbawang Barat, karena Covid. Tentu telah terjadi interaksi di sana, selama dua hari di Kotabumi, Lampung Utara. Dengan ikhlas aku dan anak sementara menginap di rumah, sementara isteri isolasi mandiri (isoman) atau dikarantina kesadaran sendiri di rumah. Dari pada ia yang karantina dengan menyewa kos-kosan: selain biaya dan apa mungkin pemilik kos dan warga tempatan mau menerima? Ini problema yang barangkali tak atau belum dipikirkan pemerintah.

Akhirnya, saya tutup dengan puisi ini yang saya petik dari (calon) buku puisi saya, "Buku Tipis untuk Kematian". Inilah puisinya, girangkan jiwa dan hati dengan tetap hati-hati pada virus yang senantiasa mengancam. 

TENTANG DUA KOTA PINTUNYA DITUTUP

dua kota di luar kisah Luth, tidak 

boleh ada yang masuk ataupun pergi. kota

menjadi mati seakan, siang lengang 

dan malam bagaikan di makam 

dua kota yang ditutup pintunya, tiada 

sesiapa yang boleh datang dan pulang

jalanjalan hilang deru. tak kudengar

dengkur di malamnya

begitu sunyi. dua kota di luar kisah 

Luth. tak dibalikkan, hanya digoncang

   (dan orangorang cemas seperti ada 

    dalam kisah Luth, tak dapat lari

   maupun sembunyi. selain berdoa,

   segera keluarkan kami dari kota 

   dipenuhi ketakutan)

dari rumahrumah yang juga sunyi 

sajadah dan mimbar digelar; hanya 

menyebut namanama-Mu, hanya...

2021

Salam bahagia.*

Isbedy Stiawan ZS adalah sastrawan berjuluk Paus Sastra Lampung.