Terapi Plasma Konvalesen

Ilustrasi/RMOLLampung
Ilustrasi/RMOLLampung

SEJAK kemarin malam saya mendedikasikan waktu untuk belajar cepat dan singkat tentang terapi plasma konvalesen. 

Saya membaca hasil riset dan publikasi terkait terapi ini, mulai dari riset Oxford, John Hopkins sampai yang terdekat dari UGM. 

Ternyata hasilnya tidak sehebat yang dikira, terapi plasma konvalesen hanya lumayan menjanjikan untuk pasien dengan kondisi ringan dan moderat (belum menggunakan ventilator misalnya), terapi ini belum teruji efektif untuk pasien dalam kondisi berat. 

Bisa jadi karena hasil risetnya seperti itulah maka di China, Eropa dan USA euforia terapi plasma ini sudah jauh mereda tidak seheboh seperti di bulan-bulan awal pandemi.

Terapi ini juga ternyata membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mulai dari penyediaan mesin Apheresis dan perlengkapannya sampai ke biaya operasional penyediaan plasma yang akan didonorkan.

Saya terkejut membaca surat edaran Pengurus Pusat PMI terkait biaya pengganti yang dibutuhkan untuk menyediakan 1 paket terapi Plasma Konvalesen (PK) ini, biayanya sebesar Rp4,5 juta dan tidak ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

Dalam situasi keuangan negara dan keuangan daerah yang sedang kurang baik seperti sekarang, sementara efektivitas terapi ini juga belum diterima luas oleh komunitas medis dunia terutama untuk pengobatan pasien kondisi berat, apalagi biaya pengadaan mesin dan kelengkapannya begitu mahal, belum lagi biaya penyediaan paket terapi plasma juga tidak murah dan tidak ditanggung oleh BPJS Kesehatan, saya kira lebih baik pemerintah Provinsi Lampung fokus saja kembali pada kerja 3T plus vaksinasi.

Ikuti saja cerita sukses di China, Eropa dan USA yang relatif dengan begitu cepat telah berhasil melakukan vaksinasi lebih dari 70% populasi penduduk mereka, sehingga kondisi mereka saat ini sudah jauh lebih baik daripada akhir tahun lalu.

Pemerintah lebih baik fokus saja pada kapasitas Testing, Tracking dan Treatment agar sesuai standar rasio minimal yang diminta oleh WHO dan Kemenkes sembari mempercepat vaksinasi. Karena lockdown kewilayahan ternyata terasa sekali sangat berat, maka lebih baik kita melakukan lockdown terhadap diri kita masing-masing melalui vaksinasi agar virus tidak dengan mudah bisa menjangkiti. 

Kalau memang Bank Lampung punya uang lebih sehingga bisa dibelanjakan untuk pembelian mesin seharga miliaran seperti mesin untuk terapi plasma konvalesen, lebih baik uang itu digunakan dulu untuk membantu para pegawai dan keluarga pegawainya yang sedang terpapar atau malah sudah meninggal dunia. Kalau pun masih ada kelebihan lagi, berikan kepada pemerintah daerah sebagai sumbangan untuk meningkatkan rasio Testing dan Tracing.

Silakan saja jika ingin tetap meneruskan terapi plasma ini jika memang ada skema pembiayaan yang tidak membebani keuangan daerah dan tidak akan menambah beban derita pasien beserta keluarganya. 

Biaya Rp4,5 juta per paket terapi plasma konvalesen mungkin terasa murah untuk mereka yang berkecukupan, apalagi bagi para pejabat publik yang tunjangannya baru dinaikkan awal tahun lalu. 

Tetapi uang itu pasti terasa sangat besar untuk saudara-saudara kita yang mencari nafkah dari kerja dan upah harian, yang selama pandemi ini juga kondisinya semakin tidak menentu.

Semoga Allah senantiasa melindungi kita semua, terutama untuk saudara-saudara kita yang 24 jam dalam sehari masih berkutat dengan persoalan nafkah dan kebutuhan dasar hidup sehari-hari. Aamiin.

*Pengamat Masalah Pembangunan