Terima Suap Rp5 Miliar, Rektor Unila Gunakan Rp575 Juta untuk Pribadi

Konferensi pers KPK terkait dugaan suap penerimaan mahasiswa baru Unila/YouTube KPK
Konferensi pers KPK terkait dugaan suap penerimaan mahasiswa baru Unila/YouTube KPK

KPK menetapkan Rektor Universitas Lampung (Unila), Karomani sebagai tersangka kasus suap penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri Unila. Karomani menerima suap sekitar Rp5 miliar dan telah digunakan untuk keperluan pribadi sebesar Rp575 juta. 


Wakil Ketua KPK, Nurul Ghufron menjelaskan konstruksi perkara kasus suap yang menjerat Karomani. Menurutnya, tahun 2022, Unila ikut menyelenggarakan penerimaan mahasiswa baru baik melalui SNMPTN maupun jalur khusus yakni Seleksi Mandiri Masuk Universitas Lampung (Simanila).

"Karomani yang menjabat sebagai rektor Unila periode 2020 hingga 2024, memiliki wewenang salah satunya terkait mekanisme dilaksanakannya Simanila tersebut," kata Ghufron, Minggu (21/8). 

Lanjutnya, selama proses Simanila berjalan, Karomani diduga aktif untuk terlibat langsung dalam menentukan kelulusan para peserta Simanila dengan memerintahkan Wakil Rektor Bidang Akademik, Heryandi dan Kepala Biro Perencanaan dan Hubungan Masyarakat, Budi Sutomo serta Ketua Senat, Muhammad Basri untuk turut serta menyeleksi secara personal. 

"Penyeleksian secara personal terkait kesanggupan orang tua mahasiswa yang apabila ingin dinyatakan lulus, maka dapat dibantu dengan menyerahkan sejumlah uang selain uang resmi yang dibayarkan sesuai mekanisme yang ditentukan pihak universitas," ujarnya. 

Karomani juga diduga memberikan peran dan tugas khusus untuk Heryandi, Muhammad Basri dan Budi Sutomo untuk mengumpulkan sejumlah uang yang disepakati dengan pihak orang tua peserta seleksi yang sebelumnya telah dinyatakan lulus berdasarkan penilaian yang sudah diatur oleh Karomani. 

"Terkait besaran nominal uang yang disepakati antara pihak KRM diduga jumlahnya bervariasi dengan kisaran minimal Rp100 juta sampai Rp350 juta untuk setiap orang tua peserta seleksi yang ingin diluluskan," jelasnya.

Kata Ghufron, Karomani diduga memerintahkan Mualimin selaku dosen untuk turut mengumpulkan sejumlah uang dari para orang tua peserta seleksi yang ingin dinyatakan lulus oleh Karomani. Andi Desfiandi, salah satu keluarga calon peserta seleksi Simanila diduga menghubungi Karomah untuk menyerahkan sejumlah uang karena anggota keluarganya telah dinyatakan lulus. 

"Mualimin atas perintah Karomani mengambil titipan uang tunai sejumlah Rp150 juta dari Andi Desfiandi di salah satu tempat di Lampung. Seluruh uang yang dikumpulkan Karomani melalui Mualimin berjumlah Rp603 juta dan telah digunakan untuk keperluan pribadi Karomani sekitar Rp575 juta," ujarnya. 

Selain itu, KPK juga menemukan adanya sejumlah uang yang diterima Karomani melalui Budi Sutomo dan Muhammad Basri yang berasal dari pihak orang tua calon mahasiswa yang diluluskan Karomani. 

"Atas perintah Karomani uang tersebut telah dialih bentuk menjadi tabungan deposito, emas batangan dan juga masih tersimpan dalam bentuk uang tunai dengan total seluruhnya sekitar Rp4,4 miliar," jelasnya.