Terminal Kemiling Ditutup Bongkahan Batu Besar Oleh "Pemiliknya"

Truk saat menumpahkan bongkahan batu besar di Terminal Kemiling/RMOLLampung
Truk saat menumpahkan bongkahan batu besar di Terminal Kemiling/RMOLLampung

Seorang warga menutup akses masuk lokasi pos retribusi Terminal Kemiling, Kota Bandarlampung dengan bongkahan batu-batu besar, Jumat (22/1).


Truk menumpahkan bongkahan-bongkahan batu besar berwarna putih yang biasa dipakai untuk fondasi rumah tersebut hingga menuntup jalan kendaraan masuk terminal.

Subroto, warga tersebut, mengklaim lokasi tersebut miliknya berdasarkan Keputusan Pengadilan No.25/Pdt.G/2020/Pengadilan Negeri Tanjungkarang.

Menurut kuasa hukumnya kepada Kantor Berita RMOLLampung, David Sihombing lahan tersebut sudah sah milik klainnya. 

Menurutnya, dinas perhubungan tidak memiliki hak untuk membangun tempat pemungutan retribusi (TPR) atas lahan milik Subroto. 

"Kami mempertanyakan itu, entah dibangun oleh siapa, atas dasar apa, dan tadi kami minta surat tugas dari dinas perhubungan tidak ada, tidak ditunjukkan, hanya perintah atasan aja," jelasnya. 

Alasan pihaknya melakukan hal ini karena ada anggapan bahwa ada kerjasama antara pemilik lahan Subroto dengan dinas perhubungan untuk mengambil retribusi tersebut. 

"Namun kenyataannya tidak, kami duga itu adalah suap terbuka karena dia ngambil duit itu melewati tanah pak Subroto, itukan ngeri sekali. Jangan sampai kita terkesan dikambing hitamkan," ujarnya. 

Sebelumnya, kata David, TPR berada dipinggir jalan sebelum dilakukan penutupan jalan, namun sekarang pindah walaupun jalan sudah tidak ditutup. 

"Kita hitung-hitung tadi gak lama, sudah banyak sekali mintain duit, kemana selama itu uangnya, dikasih gak itu ke Herman HN," jelasnya. 

Menurutnya, ini masih langka awal. Nanti pihaknya akan menggugat kasus ini. 

"Nanti kita akan bikin pintu kesitu, dan segera akan kita tutup semua. Inikan masih langkah awal, nantinya mereka akan kami gugat," ujarnya.