Terpidana Mati Narkotika Ajukan Banding

Nelson Rumanof, SH/RMOLLampung
Nelson Rumanof, SH/RMOLLampung


Terpidana mati perkara narkotika, Suhendra alias Midun bin Kasmin, resmi mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Tanjungkarang melalui Penasehat Hukum (PH) Nelson Rumanof, SH.

Memori banding melalui Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang itu untuk melepaskan Suhendra dari segala tuntutan atau bila hakim berpendapat lain untuk memutuskan seadil-adilnya secara proposional dan akomodatif.

Menurut Nelson ada dua hal yang dapat memperkuat alasan untuk melakukan banding yaitu saat Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tersangka tidak didampingi oleh PH. Lalu, Suhendra tidak berperan aktif dalam kasus ini.

"Padahal, tersangka yang diancam 15 tahun lebih harus wajib didampingi oleh pengacara. Tapi tidak dilakukan karena pernyataan dia tidak ingin di dampingi oleh pengacara lantas kewajiban itu tidak boleh ditiadakan," kata Nelson Rumanof kepada Kantor Berita RMOLLampung, Senin (24/8).

Lanjutnya, pendampingan oleh PH itu wajib kalau tidak didampingi artinya surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) karena dasarnya ilegal, maka itu tidak sah dan harus di tolak oleh pengadilan.

"Pengadilan tingkat pertama itu menyatakan bahwa Suhendra itu aktif dalam rangkaian tindak pidana ini, kalau menurut aku setelah aku baca putusan pengadilan tingkat pertama itu sangat kontradiktif pendapat hakim ini, dengan apa yang terungkap di persidangan," ujarnya.

Menurutnya, Suhendra adalah seorang supir yang mendapat telpon dari kakak sepupunya yaitu Supriyadi untuk diminta tolong mengambil mobil dan berpesan jika ada yang telpon dia harus mengangkatnya, dimana yang nelpon namanya Irfan Usman.

"Saat di TKP Suhendra di telpon, suruh nunggu 5 menit, saat itupun kunci kontak sudah tergantung, karcis parkir sudah ada. Dan dilihat seakan-akan kosong, dan gak kelihatan. Kita lihat waktu pemeriksaan bahwa barang ini ada saat di bongkar mobil itu. Ada di dashboard, ada di pojok, bawah. Artinya tidak kasap mata, nah itu dimana peran aktifnya," jelasnya.

Ia menegaskan, Suhendra itu hanya pasif, dan korban korban yang terpengaruh oleh sindikat narkotika untuk memindahkan mobil dari Rumah Sakit Abdul Moeloek ke kunyit.

"Tapi kita melihat tapsirannya itukan belum terlaksana. Kalau kita lakukan pembuktian terbalik, jika dia tidak di telpon oleh Supriyadi gak jalankan, oke dia di telpon, kalau dia gak di telpon Irfan, gak bergerakkan, oke dia di telpon dan di suruh menunggu. Kalau dia tidak di telpon dia gak bergerak," ujarnya.

Berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Tanjungkarang Kelas IA tanggal 6 Agustus 2020. Nomor perkara 363/Pid.Sus/2020/PN.Tjk terdakwa Suhendra dijatuhkan pidana mati karena menjadi perantara dalam jual beli narkotika golongan 1 yang beratnya 41 kilogram.