Tidak Naik Kelas, 5 Murid SDN 3 Padangcermin Pecahkan Kaca Sekolah

Kaca SDN 3 Padancermin yang dipecahkan/Ist
Kaca SDN 3 Padancermin yang dipecahkan/Ist

Dinyatakan tidak naik kelas, lima murid SD Negeri 3 Padangcermin Kecamatan Padangcermin Kabupaten Pesawaran pecahkan kaca sekolah, Selasa (22/6).


Peristiwa tersebut terjadi pukul 08.30 Wib di SDN 3 Padangcermin yang berada di Dusun Tegalrejo Desa Way Urang.

Salah satu wali murid, Darman mengatakan perbuatan tersebut dilakukan sebagai bentuk kekesalan karena tidak naik kelas. 

“Tentunya mereka kesal dan malu, mereka ini sudah besar sudah naik kelas enam, mereka sampai bilang tidak mau sekolah,” katanya. 

“Dan memang setiap tahunnya selalu ada murid yang tidak naik kelas,” timpalnya. 

Ia menuturkan, awalnya kelima murid tersebut datang kesekolah untuk mengerjakan remedial (tes ulang) yang diberikan gurunya. 

“Mereka dipanggil untuk remedian, tapi malah saya dengar kabar kalau mereka memecahkan kaca sekolah,” pungkasnya.

Darman mengungkapkan saat kejadian berlangsung guru dan kepala sekolah berada ditempat kejadian namun, tidak memberikan tindakan apapun. 

“Ada guru dan kepseknya juga tapi mereka hanya diam, mungkin sudah tau kalau anak muridnya akan melampiaskan kemarahannya,” ungkapnya. 

Diketahui, lima anak murid tersebut memecahkan kaca sekolah menggunakan ketapel, kelimanya adalah WR, YP, IL, IK dan DN. 

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pesawaran Fauzan Suaidi mengatakan pihaknya telah berkoordinasi mengenai kelima siswa yang tidak naik pada tahun ajaran 2020-2021.

“Seharusnya persoalan tersebut diselesaikan dengan beberapa solusi yang mendidik dan sesuai dengan kaidah pendidikan,” kata Fauzan.

“Harusnya bisa diatasi dengan memberikan tugas pelajaran kepada siswa yang dimaksud, jadi tetap naik kelas namun dengan syarat karena memang siswa tersebut tidak mengerjakan soal saat ulangan atau ujian kenaikan kelas yang berlangsung secara daring,” timpalnya. 

Menurutnya, tidak ada tuntutan dari pihak sekolah usai kejadian pemecahan kaca tersebut. 

“Kalau soal kaca itu tak ada masalah, kita tidak akan tuntut menuntut namanya juga anak-anak,” ujarnya.

“Yang kita tekankan saat ini adalah bagaimana cara anak tersebut tetap bersekolah untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi karena kita tidak tahu ke depannya mereka akan seperti apa, siapa tau mereka semua akan menjadi orang hebat,” pungkasnya.