Tingkatkan Ekonomi, Desa Penyangga TNWK Kembangkan Budidaya Lebah Trigona

Budidaya lebah trigona di Desa Braja Harjosari Lampung Timur/Tuti
Budidaya lebah trigona di Desa Braja Harjosari Lampung Timur/Tuti

Sebagai salah satu desa penyangga Taman Nasional Way Kambas, Desa Braja Harjosari, Kecamatan Braja Selebah, Lampung Timur mengembangkan budidaya lebah trigona untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. 


Awalnya, masyarakat sekitar berburu madu dari lebah cerana, namun karena lebah tersebut sering berpindah-pindah, akhirnya masyarakat beralih ke lebah trigona. 

Salah satu anggota kelompok tani hutan (KTH), Pariyanto mengatakan lebah trigona lebih mudah dibudidayakan dibanding lebah cerana. Sehingga ia bersama anggota KTH lainnya mulai beralih. 

"Sebelumnya kami baru mulai budidaya pada September lalu, dan November sudah bisa panen hingga setengah liter per lognya karena masih belum penuh," kata Pariyanto, Rabu (29/12).

Pariyanto mengaku membeli log lebah trigona dari Jambi, sementara toppingnya ia buat sendiri dari sisa kayu mebel miliknya. 

"Perawatan lebah trigona cukup mudah, hanya perlu mengontrol dari predator seperti capung dan cicak. Sebelumnya hanya menunggu sampai panen," ujarnya. 

Untuk makanan tambahan lebah trigona, kata Pariyanto, cukup menanam bunga air mata pengantin atau pohon yang kaya kandungan resin seperti mangga dan nangka. 

"Resin itu digunakan oleh lebah untuk membuat propolisnya. Sehingga buah mangga dan nangka sangat cocok berada di sekitar budidaya lebah trigona," jelasnya. 

Saat ini KTH yang membudidayakan lebih trigona seperti Suhada (15 log), Imam Danuri (3), Suhadi (1) dan Tekat (1). 

"Kami juga mendapatkan penyuluhan dari Mitra Bentala, jika ingin menghasilkan madu yang banyak, maka perlu log yang banyak. Sehingga nantinya ketika sudah berkembang akan kita perbanyak," ujarnya.