Tokoh Pemekaran Tuba, Rukhyat Kesumayuda Tutup Usia




Kabar duka cita datang dari keluarga besar salah satu tokoh adat/masyarakat adat Lampung, terutama di wilayah hukum adat tiga kabupaten: Tulangbawang (Tuba), Tuba Barat (Tubaba), dan Mesuji.

Mantan Camat Menggala 1986-1988, Pembantu Bupati Lampung Utara wilayah Menggala (1993-1994), Penyimbang Adat Marga Suay Umpu sekaligus Lembaga Adat Megou Pak, Rukhyat Kesumayuda bin Raden Panji Kesumayuda, mangkat.

Mendiang pelaku sejarah penggagas/pendiri kabupaten Sai Bumi Nengah Nyappur itu, wafat di usia 83 tahun di Kota Bandarlampung, Minggu (26/7).

Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka, Jl Pakis, Beringin Raya, Kemiling. Informasinya, jenazah lalu dikebumikan di TPU Beringin Raya, Senin (27/7).

[caption id="attachment_60506" align="alignnone" width="711"] Salah satu karangan bunga ucapan duka cita terhadap almarhum Rukhyat Kesumayuda bin Raden Panji Kesumayud /Foto Muzamil[/caption]

Pengingat, semasa hidup, jeda lima tahun usai tak lagi camat Menggala, almarhum ditugasi pembantu Bupati Lampung Utara wilayah Menggala.

Tepatnya, ke-4, setelah HM Yusuf Nur (1981-1985), Kardinal (1985-1989), dan Somari Saleh (1989-1993).

Lepas jabatan, dia digantikan Tamanuri, kelak bupati Waykanan, kini anggota dua periode DPR/MPR dapil Lampung II.

Dari Tamanuri (1994-1996), seiring pemekaran wilayah hingga Tuba resmi berdiri 20 Maret 1997 berdasarkan UU 2/1997, Santori Hasan ditunjuk jadi Pj. bupati pertama, juga terpilih sebagai bupati pertama, periode 1997-2002.

Ketokohan Rukhyat mewarisi heroisme sang ayah, Raden Panji Kesumayuda.

Sejumlah literatur sejarah, mengutip keterangan Rukhyat, mendiang ayahnya pernah menjadi demang, dua periode terpisah pada 1921-1927, dan 1932 hingga 1942.

Sejarah kemudian menyemat Demang Samad, sebutan Raden Panji. Demang sendiri, menurut KBBI, gelar wedana pada masa pemerintahan kolonial.

16 tahun sebelum demang, pada 1905, Raden Panji telah berkantor di Gedung Perwatin, Menggala, saat Lampung masih jadi wilayah protektorat dibawah Kesultanan Banten.

Gedung bersejarah warisan Belanda itu, mula kabupaten berdiri pernah jadi kantor Bappeda.

Hingga akhir hayat, mendiang Rukhyat tercatat tak surut semangat turut memperjuangkan hak-hak ulayat Marga Suay Umpu khususnya dan masyarakat adat Megou Pak Tuba umumnya, yang berkonflik agraria tajam menahun dengan sejumlah nama korporasi, sejak 1993.

Kini, salah satu putri almarhum, Desia Kesumayuda, diamanati Bupati Winarti jadi Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pemkab Tuba. Sebelumnya, staf ahli bidang ekonomi, keuangan, dan pembangunan.

Putri mendiang lainnya, Novitasari Kesumayuda, atau karib disapa Keke, alumnus Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Unila angkatan 1997. Juga adik mereka, Nely Wulantina Kesumayuda.

Pantauan di grup perpesanan singkat Ikatan Alumni Ilmu Pemerintahan (Ikapem), dan Alumni FISIP Unila 1997, banjir ucapan belasungkawa, Senin.

Anggota DPRD Lampung Utara, yang kini Ketua DPD Partai Hanura Lampung Ali Darmawan, selaku Ketua Ikapem FISIP Unila 1997, mewakili rekan Keke, turut berkirim karangan bunga duka.

Minggu malam, Wakil Bupati Lampung Barat Madhasnurin, pernah lama dinas di Tuba, juga mengunggah kabar duka di Facebook. Turut menanggapi, tokoh Panaragan, Tubaba, Herman Artha, dan eks Wabup Waykanan, Marsidi Hasan.

Selain Madhasnurin, puluhan karangan bunga belasungkawa nampak berjejer sekeliling rumah duka. Antaranya dari Bupati Winarti, Kepala Bappedalitbang Tuba Dicky Soerachman, dan lainnya. "Kalo bupati rencana sore ini ke rumah duka," ujar Dicky, via WhatsApp, Senin.

Dan, jika melawat Kota Tua Menggala, atau gemericik alir sungai Way Umpu, menjumpai sejumlah bangunan dan tempat bersejarah, selain Raden Panji, kini bak ada "senyum" Rukhyat, disana.

Tugas sejarahnya kini usai. Dalam pelukan Sang Pencipta, kini dia damai. Selamat jalan, pejuang. Selamat jalan Rukhyat Kesumayuda. (Muzzamil)