Rumah korban, Hartono (39) masih terpasang taruf menyambut 40 hari paska musibah. (foto: NV-.RMOLLampung).[/caption]
Upaya menutup-nutupi kematian Tono, dibenarkan Kapolsek Lawang Kidul yang menaungi keamanan bagi masyarakat di Tanjung Enim.
"Saya belum tahu, tidak ada laporan," ujar Kapolsek Lawang Kidul, AKP. Azizir Alim, SH.
Pihak kepolisian, sebagaimana dijelaskan Azizir yang didampingi jajaran dari Serse Polsek Lawang Kidul, menjelaskan kecelakaan di wilayah tambang memang sering menjadi rahasia perusahaan.
"Beda konteksnya dengan kecelakaan di jalan raya, kagek jangan kau salahkan polisi ya, karena kami memang tidak tahu," ujar dia yang diwawancarai RMOLLampung.id di ruangannya pada Senin, 24 Februari 2020.
"Mereka ini melapor ke Polsek juga idak, begitu ado masalah baru kami dilibat-libatkan," kata dia.
Memastikan kabar itu, pihak Satuan Pengamanan PTBA, juga mengaku tidak tahu.
"Kalau soal kecelakaan tambang, kami tidak tahu. Dan lagi, soal itu urusan K3, pasti sudah beres, kami tidak punya kewenangan menjawab," kata Asmen Operasi Security PTBA Joko Purwanto yang ditemui rmollampung di ruangannya, kompleks Kantor Pusat PTBA Tanjung Enim.
Pihak security PTBA menyarankan agar bertemu dengan pejabat yang berwenang, yaitu, GM Unit Pertambangan Tanjung Enim, Suhedi.
"GM UPTE itu merangkap sebagai ketua Teknik Tambang. KTT itu yang berhak memberikan keterangan, kalau kami di sini, pengamanan saja," kata Joko.
GM UPTE sendiri, berusaha ditemui RMOLLampung.id' Kantor Pusat PTBA, namun mengakui sedang ke Jakarta.
"GM itu levelnya bupati, Pak. Susah ditemui, saya ikut mengawal beliau, sudah berkunjung ke rumah korban, sudah selesai lah," kata Ali, bagian security yang sedang berjaga di palang pintu masuk kawasan kantor PTBA.
Dikonfirmasi melalui ponselnya, termasuk dengan pesan WA ke nomor 08127860***, belum merespon meski sudah menunjukkan pesan terbaca. 
