Triono Membudidayakan Talas Beneng, Daunnya Diolah Jadi Tembakau Herbal

Triono di tengah kebun talas beneng/Ist
Triono di tengah kebun talas beneng/Ist

Tak ingin hanya berpangku tangan dalam kondisi pandemi Covid-19, Triono memberanikan diri untuk membuka usaha pertanian. 


Bukan tanpa perhitungan ia membuka usaha budidaya tanaman talas beneng atau xanthosoma undipes. Triono mengaku bulan depan hasil panen perdananya siap diekspor ke Australia. 

"Di situasi pandemi ini kita mencoba membaca peluang saja, kira-kira peluang mana yang bisa digunakan batu lompat untuk mempertahankan diri, dan saya akhirnya menekuni bidang pertanian," kata Triono kepada Kantor Berita RMOLLampung, Selasa (14/9). 

Dengan lahan seluas 30 hektar di Kecamatan  Tanjungbintang, Kabupaten Lampung Selatan, Ia turut melibatkan petani sekitar untuk merawat talas beneng dan pohon pisang sebagai tanaman pelindung. 

"Saya menggandeng petani mitra untuk budidaya talas beneng, juga kerjasama dengan eksportir untuk pengiriman hasil panen ke Australia," ujarnya. 

Menurutnya, selain umbi talas yang dipanen, daun talas juga ia panen. Setiap 5 bulan sekali daun talas dipanen dan dibuat tembakau herbal.  Umbinya bisa dipanen setelah 2 tahun. 

"Tembakau herbal ini yang kita ekspor. Tembakau herbal ini jelas berbeda dengan tembakan aslinya, karena herbal tanpa nikotin dan lebih sehat," jelasnya. 

Cukup mudah, kata Triono mengolah daun talas untuk dijadikan tembakau herbal. Ia menjelaskan, daun talas yang sudah dipanen dibersihkan terlebih dahulu, lalu diperam selama dua hari hingga berwarna kuning. 

"Setelah itu dirajang, lalu dikeringkan selama 5 jam. Kemudian siap kemas dan diekspor," ujarnya. 

Selama menekuni usaha pertanian ini, Triono mengaku hanya terkendala dengan pendapatan, karena membutuhkan waktu 6 bulan untuk bisa mendapatkan pemasukan. 

"Selama 6 bulan itukan gak ada pemasukan, tapi pengeluarannya tetap jalan, buat para pekerja dan juga modal awal bertanam," jelasnya.