Truk Batu Bara, Bahayakan Pengendara Lain dan Rusakkan Jalinsum Lampung Utara

Truk pengangkut batu bara/ Efriantoni
Truk pengangkut batu bara/ Efriantoni

Pengendara yang beriringan ataupun berpapasan dengan truk tronton pengangkut batu bara di sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) khususnya di wilayah Lampung Utara diminta berhati-hati. 


Sebabnya, batu bara bisa saja tumpah keluar bak truk dan mengancam keselamatan para pengguna jalan.

Seperti peristiwa yang dialami Subran (35) pengemudi pikap pengangkut ikan. Warga Kecamatan Kotabumi Selatan, Lampung Utara ini, mengaku nyaris celaka saat berpapasan dengan rombongan truk pengangkut batu bara.

Sebuah bongkahan batu bara tumpah keluar kemudian jatuh dan mengenai bagian depan mobil pikap yang dikendarainya. Peristiwa itu terjadi pada  Jumat (24/6) dini hari di Jalinsum Abung Barat, Lampung Utara. 

"Awalnya saya melihat di depan saya truk tronton, kemudian ia mencoba menghindari lubang. Untung saja saat berpapasan saya dapat mengelakkan mobil saya karena dia sempat mengambil jalur saya. Tapi, bersaman itu juga saya dikagetkan dengan benturan keras di bagian depan mobil," kata Subran, Jumat (24/6).

Kemudian, ia menghentikan kendaraannya dan melihat kondisi mobilnya. Ternyata mobilnya terkena runtuhan dari bongkahan material batu bara yang diangkut truk tersebut.

Saat itu, ada tiga truk pengangkut batu bara beriringan waktu itu. Begitu ia menyadari jika mobilnya terkena tumpahan batu bara, langsung putar arah dan mengejar truk tersebut.

"Hampir saja bongkahan itu mengenai kaca depan mobil kalau tidak bisa celaka saya. Walaupun muatan ditutupi terpal ada kemungkinan ikatan penutupnya tidak kuat ataupun kurang rapat, sehingga pada saat hilang keseimbangan beberapa bongkahan ada yang terlempar keluar," kata Subran.

Diketahui truk tronton pengangkut batu bara kerap kali membuat masalah, mulai terbalik hingga membuat kemacetan dan kerusakan jalan umum yang diduga akibat beban muatan melebihi kapasitas.

"Sebenarnya truk tronton pengangkut batu bara itu tidak layak melintas di wilayah Lampung Utara ini. Sebab, jalan menjadi rusak karena beban angkutannya sangat berat. Mereka beroperasi di jalanan pada malam hari. Mestinya diangkut pakai truk kecil," kata Fatir salah seorang warga Kotabumi.

Warga melanjutkan sempat mendengar kabar beberapa bulan yang lalu jika sekelompok warga di Lampung Utara memprotes agar truk batu bara tidak melintas di wilayah setempat. 

Sempat beberapa hari tidak aktifitas saat adanya penolakan dari masyarakat. "Sempat ada sekelompok perwakilan dari masyarakat yang protes. Dan sempat terhenti beberapa hari tidak ada truk pengangkut batu bara yang melintas. Tapi saat ini truk tronton pengangkut batu bara itu mulai beroperasi lagi," ujar warga.

Aktivitas kendaraan truk tronton pengangkut batu bara yang diduga kelebihan beban muatan berdampak pada kerusakan jalan Nasional lintas Sumatera di Kabupaten Lampung Utara mulai Bukit Kemuning hingga Kecamatan Blambangan Pagar atau hingga perbatasan Lampung Tengah.

Dalam pantauan, angkutan batu bara terlihat beroperasi malam hari. Truk tronton dengan muatan lebih dari 30 ton itu melintas di wilayah Lampung Utara dengan cara beriringan atau konvoi. 

Berdasarkan UU No 3 tahun 2020 disebutkan bahwa dalam kegiatan usaha pertambangan wajib menggunakan jalan khusus tambang yang merupakan jalan yang dibangun oleh instansi, badan usaha, perseorangan atau kelompok untuk kepentingan sendiri.