Wagub Nunik Keterpilihan Perempuan 30 Persen di Pemilu 2024 Harus Meningkat

Dialog multi stakeholder Dukungan Publik u yuk Keterpilihan Perempuan di Pemilu Legislatif 2024, Kamis (24/11)/Faiza
Dialog multi stakeholder Dukungan Publik u yuk Keterpilihan Perempuan di Pemilu Legislatif 2024, Kamis (24/11)/Faiza

Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim (Nunik) mengatakan, meski keterwakilan 30 perempuan di politik belum tercapai, tapi angkanya sudah terus meningkat dan harus ditingkatkan.


Hal itu disampaikannya dalam agenda dialog multi stakeholder "Dukungan Publik untuk Keterpilihan Perempuan di Pemilu  legislatif 2024" yang digelar Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Lampung, Lada Damar dan Women Democrazy di Hotel Bukit Randu, Kamis (24/11).

Wagub Nunik berpesan kepada KPPI Lampung agar melakukan lobi-lobi ke elite partai politik agar bisa memenuhi kuota 30 persen perempuan.  Menurutnya, perempuan juga harus diberikan kesempatan untuk membuktikan dirinya menjadi pemimpin.

"Tapi untuk bisa dapat dukungan publik, harus melewati gerbang utama, yaitu berinvestasi di partai, salah satunya investasi waktu agar diperhitungkan," ujarnya.

Ia menjelaskan, perempuan sulit menjadi prioritas jika tidak berinvestasi di partai, apalagi di partai besar yang biasanya sudah punya banyak kader perempuan yang potensial.

"Atau salah satu caranya, punya hubungan darah dengan ketua partai. Kalau tidak, perempuan hanya akan jadi pelengkap untuk memenuhi kuota. Kita tidak ingin itu terjadi," sambungnya.

Ketua PKB Lampung ini melanjutkan, ada tiga modal politisi perempuan bisa melewati gerbang pertama itu. Pertama, harus punya modal, tak hanya uang tapi bisa dengan investasi aktif di berbagai acara partai.

Kedua, mesti punya kemauan dan terkahir mesti komitmen dengan kemauannya. Penting juga untuk turun langsung ke dapil agar lebih dekat dengan masyarakat.

Sementara itu, Ketua DPD KPPI Lampung Nenden Tresnanursari mengatakan, pihaknya terus berupaya agar keterwakilan perempuan minimal 30 persen akan tercapai di Pemilu 2024. 

"Kami ingin melahirkan perempuan politik yang transformatif, memberikan kedamaian, mampu bekerja sama dengan seluruh elemen," tutupnya.