Wajah Pencapaian Seni Rupa Lampung Dalam "Spirit of Art"


LUKISAN para "maestro" Lampung bersanding bersama pelukis nasional dalam "Spirit of Art" di Taman Budaya Lampung. Pameran lukisan yang bisa dibilang mewakili pencapaian tertinggi wajah seni rupa daerah ini di tutup tahun 2018.

Dari "Sang Bumi Ruwa Jurai", lukisan yang ditampilkan diwakili dua maestronya, yakni Bunga Ilalang dan Nurbaito. Pelukis nasionalnya diwakili karya Budi Ubrux, Cubung WP, Tato Kastareja, dan Suhut.

Dari tangan dingin Toro, pecinta seri rupa, lukisan bisa memancarkan spiritnya untuk masyarakat Lampung lewat pameran yang digelarnya enam hari di Taman Budaya, Bandarlampung, Sabtu (15/12) hingga Kamis (20/12).

Toro sendiri berbagi spirit lewat karya seni instalasi berjudul "Perjuangan Meraih Nasi Bungkus" hasil kontemplasinya mengawinkan tiga spirit pelukis--Budi Ubrux, Suhut, dan Cubung--menuju satu filosofi tentang kehidupan.

Nasi bungkus mewakili spirit Budi Ubrux yang sering menghadirkan objek lukisan nasi bungkus, totem kayu akar yang berukir monster mewakili spirit seni Suhut, dan semut hitam mewakili spirit Cubung,

Dari ketiga spirit tersebut, Toro menggambarkan bagaimana perjuangan para semut hitam yang bersatu dan bergotong royong untuk mewujudkan kebutuhan pangan (nasi bungkus) dan sandang serta papan mereka (biji kapuk).

Karya instalasi Toro tampil di tengah ruang pameran yang dikelilingi lukisan-lukisan para perupa Lampung dan nasional yang tergantung di panel-panel yang warnanya norak memedihkan mata.

Bunga Ilalang menampilkan lukisnya Monalisa Co-Wife, Mata Hari-The GreatestWomen Spy, Frida Kahlo, Sang Maestro, Sekura Party 2, Dewi Soekarno, Monroe in Mirror, Fly with Butterfly, Dimana Lampungku, dan Spirit of Lampung, Sekura Party 1.

Nurbaito menampilkan karyanya antara lain Di Tengah Perubahan, Lelap, Kenangan Biru, Imaji Ornamen, dan Siap Kerja.

Lukisan pelukis nasional yang telah menjadi koleksi Toro Galery karya Suhut (Antara Kebajikan dan Kebatilan dan Penggampaian Impian), Budi Ubrux (Adu Tajam dan Pit Stop), Cubung (Memilih Jalan yang Berbeda, Dewi Keadilan), serta karya Tato Kastareja (Yang Terikat dan yang Diikat dan Women in Love).

Mereka semua perupa alumni Seni Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta. Yang kebetulan, Bunga Ilalang hijrah ke Kota Metro tahun 2000, Nurbaito kelahiran Gisting, Kabupaten Tanggamus.

Suhut sebetulnya asal Kabupaten Pringsewu, namun profesionalitas berkeseniannya banyak dihabiskan di Jakarya dan Yogyakarta.

Dua pelukis dari Lampung, Bunga Ilalang dan sudah puluhan kali ikut pameran lukisan. Nurbaito sudah mengikuti 25 kali pameran lukisan.

Sedangkan para pelukis nasional yang ditampilkan Toro sarat prestasi. Budi Ubrux yang lahir di Yogyakarta 22 Desember 1968 meraih Grand Price Winner of Philip Morris Indonesia Art Award dan Philip Morris Art Award Singapura Art Museum (2000).

Suhut pernah menjadi juara pertama Lomba Lukis di Kabupaten Pringsewu (1984), dua kali memeroleh penghargaan dari Dinas P dan K Yogyakarta. Pelukis ini pernah bekerja di SIE Anination PFN (Pusat Film Negara) Jakarta.

Tato Kastareja pernah menjadi finalis Kompetisi Seni Lukis Nasional Jakarta Art Award. Pelukis ini juga sudah beberapa kali pameran di Gallery Jakarta. Masih banyak prestasi perjalanan berkeseniannya.

Toro berharap dengan even ini bisa menginspirasi para kolektor-kolektor lukisan lainnya untuk juga berbagi apresiasi lewat even-even yang masih perlu diperbanyak lagi.

"Banyak kolektor tapi tak semuanya ingin menampilkan diri," katanya.

Rasanya, rugi jika tak menengok lukisan-lukisan yang dipamerkan kali ini : Spirit of Art. [hms]