Wajah-Wajah Seceria Merahnya Biji Kopi "New Normal"




Wanginya biji kopi robusta mulai membuat tersenyum para petani bertepatan dengan masa new normal pascapandemi Covid-19 sejak akhir Juni lalu.

Para petani kopi mulai menikmati warna biji kopi yang mulai memerah pada musim panen raya di Lampung saat ini. Kabupaten Lampung Barat sentranya.

Tapi, tunggu dulu, jangan buru-buru gembira. Apakah benar harga jual kopi masih senikmat aroma secangkir kopi hangat seruputan kita?



Menilik harga, Juli tahun lalu, harga biji kopi asalan turun di tingkat petani, berkisar Rp18 ribu hingga Rp19 ribu per kilogram (kg). Tahun ini? Semoga tidak ya?

Mengintip marketplace, hargacampur.com, edisi 27 Juni 2020, Jumat (3/7), harga Green Bean Robusta Lampung tertera Rp55 ribu per kg dan Robusta Lampung SuBean Rp120 ribu per kg.

Awal tahun, harga kopi biji kopi asalan di tingkat petani bertengger di rentang harga Rp21.500 hingga Rp22 ribu per kg. Sedikit di bawah harga basis pada Rp23 ribu per kg.

Mengingat keandalan kopi robusta Lampung yang pada Januari 2020 volume ekspornya naik 60,52 persen berdasarkan data Dinas Perdagangan Provinsi Lampung yakni 9.848,6 ton.



Juga, mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung, ekspor kopi dari Lampung pada Mei 2020 yakni US$174,21 juta, turun 29,41 persen yakni US$72,57 juta, dibanding ekspor April 2020 sebesar US$246,78 juta.

Pun, nilai ekspor Mei 2020 itu juga turun 31,01 persen, tepatnya sebesar US$78,30 juta dibanding nilai ekspor Mei 2019 tercatat US$252,51 juta.

BPS Lampung mencatat kopi masih termasuk salah satu dari 10 golongan barang utama ekspor Lampung pada Mei 2020.

Maka, optimisme membaiknya kondisi kesejahteraan rakyat petani pekebun kopi robusta Lampung Barat masih berkobar menyala.

Optimisme itu bak tercermin pula dari ekpresi menawan petani kopi Lambar, seperti yang direkam-digitalkan oleh seorang warganet, Ahmad Supriyono, petani kopi asal Lambar.

Melalui beberapa kali unggahan sama, di beranda grup jejaring media sosial Facebook Petani Kopi Lambar. Ahmad, menulis demikian:

"Sahabat kopista, melihatmu tersenyum sumringah memetik butir-butir kopi, menuai jerih yang kau perjuangkan selama ini aku pun bahagia," ujarnya.

Terusnya, "Tawamu adalah tawaku, ceriamu adalah ceriaku, getir pahitmu pun sama denganku. Walau sedikit gelisah dengan harga, setidaknya kita sudah hampir sampai di ujung langkah dan nanti kembali kita memulai lagi dan lagi."

Dia menyinggung getar keresahan akan tren fluktuasi harga.

Walaupun demikian, dia yakin harapan tiada pernah putus walau terkadang pernah sesekali mengendur. Apapun yang terjadi, kita harus mensyukurinya. "Itulah cara kita menikmati hidup ini," ujarnya.

Alumnus Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Jawa Tengah, yang juga kampus Ibu Negara Iriana Joko Widodo (Jokowi) itu memungkasi unggahan dengan semangat.

"Tetap semangat menggapai masa depan, Salam kopi robusta salam kopista," tuntasnya disertai simbol secangkir nikmat kopi.

Terpisah, harapan agar harga biji kopi asalan di tingkat petani turut membaik dan sembuh dari tren tajam penurunan, salah satunya diungkapkan penikmat setia kopi Robusta Lampung, Bambang SBY.

Seniman lukis ini meminta seluruh pemangku kebijakan bergerak bersama, berkolaborasi agar harga jual biji kopi terjaga di tingkat harga ideal.

"Jangan biarkan petani kopi meringis menahan tangis, mendapati harga yang sama sekali tak bersahabat. Jika semua singsingkan lengan, moga bisa menjaga keseimbangan harga," ujarnya. (Muzzamil)