Warga Mengungsi Pascaletusan Krakatau Dan Bau Belerang




Warga mengungsi ke dataran tinggi atau hutan ketika meletusnya Gunung Anak Krakatau (GAK) yang mengeluaekan bau belerang, Jumat tengah malam (10/4).

Mereka khawatir erupsi GAK kembali memicu tsunami seperti pada akhir tahun 2018, warga Desa Kunjir mengungsi ke huntara dan dataran tinggi.

Warga mencium aroma belerang yang sangat menyengat dan hujan debu di wilayah Kecamatan Rajabasa dan Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan.

[caption id="attachment_38200" align="alignnone" width="682"] Yakub ketika menjelaskan peristiwa meletusnya GAK tengah malamndi Pulau Sebesi, pulau paling dekat GAK, Sabtu (11/4)/Net[/caption]

Yakub, salah seorang rukun tetangga (RT) di Dusun Telukbaru, Pulau Sebesi, pulau terdekat GAK, mengatakan selain dentuman kuat tengah malam juga hujan abu pasir.

Kepala Desa Kunjir Rio Imanda mengatakan warganya banyak yang mengungsi menjauhi pantai khawatir terjadi lagi tsunami.

[caption id="attachment_38176" align="alignnone" width="623"] Erupsi Gunung Anak Krakatau Jumat tengah malam (10/4)/Net[/caption]

Hingga Sabtu pagi (11/4), warga masih waspada terhadap kemungkinan paling buruk.